Lahan Subur Tumbuhnya Prajurit-prajurit Inovator

19 Oct 2015

JAKARTA – Awal Maret 2015, di tengah panas terik alam Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupan, Jenderal Gatot Nurmantyo, yang saat itu menjabat KSAD, dengan gesit berjalan mendaki ke atas perbukitan. Rombongan pejabat di belakangnya tampak kepayahan, beberapa tak kuat melanjutkan perjalanan.

 
“Ayo kita lihat tempat keluarnya air dari pipa di atas sana. Tentu melelahkan. Tapi ini bagus agar kita juga bisa merasakan bagaimana sulitnya warga di sini mencari air,” kata Jenderal Gatot menjelaskan alasan perlunya “berpeluh-peluh” menaiki bukit yang gersang.
 
Selain berempati, Jenderal Gatot tampak sekali juga ingin memberikan apresiasi yang tinggi kepada anak buahnya Letkol CPL Simon Petrus Kamlasi yang telah melakukan inovasi dengan menciptakan pompa hidrolik yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di kawasan NTT yang selama ini selalu kekurangan air.
 
Letkol Simon, yang kala itu menjabat sebagai Dandenpal 09-12-03 Kupang Paldam IX/Udayana, menciptakan pompa hidrolik yang mampu menaikkan air dari lembah ke pegunungan tanpa menggunakan bahan bakar ataupun tenaga listrik. Berkat inovasi Simon, permasalahan kekurangan air yang selama ini menjadi kesulitan masyarakat di daerah-daerah terpencil di NTT dapat terpecahkan.  
 
Sadar inovasi

Sikap Jenderal Gatot tersebut jelas memerlihatkan, meskipun seorang militer yang terbiasa kerja dalam garis komando, dirinya tetap sadar akan kekuatan sebuah inovasi dan kreativitas.
 
Geoff Mulgan dan David Albury dalam bukunya Innovation in The Public Sector (London, 2003) menjelaskan,  inovasi dan kreativitas biasanya muncul dalam sebuah institusi yang bebas dan terbuka. Dalam kondisi tersebut, setiap orang dalam instansi tersebut bisa mengungkapkan ide-ide dan inovasinya tanpa hambatan.
 
Jika demikian, tentu saja inovasi sulit muncul dalam intitusi militer yang mengutamakan garis komando dan disiplin tinggi. Buktinya, selama ini inovasi jarang muncul dari para prajurit, baik itu inovasi di bidang militer maupun nonmiliter. Teknologi canggih yang selama ini digunakan oleh militer dipasok oleh lembaga lain, sedangkan pihak militer sendiri lebih bersifat sebagai pengguna saja.
 
Di sisi lain, institusi militer tentu juga membutuhkan inovasi, baik di bidang kebijakan, sistem, peralatan, maupun interaksinya dengan masyarakat. Apalagi militer di Indonesia, dalam hal ini TNI, tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari masyarakat Indonesia. Sebab, TNI  merupakan tentara rakyat.
 
Tampaknya, pemimpin-pemimpin TNI kini semakin sadar pentingnya inovasi dan kreativitas. Ini jelas amat positif, apalagi menurut Geoff Mulgan dan David Albury, inovasi dalam sebuah institusi akan tumbuh subur jika pemimpinnya sangat mengapresiasi inovasi dan suka akan perubahan.
 
Geoff Mulgan dan David Albury mengatakan, inovasi gagal bukan karena tidak ada dukungan teknologi, namun karena kebijakan organisasi yang tidak pro-inovasi. Persepsi bahwa perbedaan pendapat atau gagasan adalah bentuk ketidaktaatan pada pimpinan, merupakan contoh dari problema kultural dalam sebuah organisasi. Tidak adanya sistem insentif bagi inovator atau kewajiban untuk mendapatkan izin atas sebuah inovasi juga merupakan kebijakan yang tidak pro-inovasi.
 
Penghargaan atas inovasi

Penghargaan untuk menumbuhkan motivasi pegawai yang melakukan inovasi jelas diperlukan. Sebab, kemampuan berinovasi tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja, namun harus dinilai sebagai sesuatu yang istimewa sehingga layak diganjar penghargaan.
 
Untuk mengapresiasi inovasi yang dilakukan Letkol Simon, Jenderal Gatot, dalam rentang sebulan, sampai datang dua kali ke NTT. Jenderal Gatot juga mengajak pimpinan TNI lainnya ikut menyumbangkan dana untuk pembuatan pompa hidrolik. Dengan demikian, semakin banyak wilayah dan masyarakat yang terbantu. Bahkan Jenderal Gatot pun ikut memberikan dana untuk pembuatan pompa.
 
Inovasi yang dilakukan Letkol Simon tergolong unik. Pertama, inovasi pompa hidrolik membutuhkan pemahaman fisika dan matematika yang baik. Ternyata inovasi tersebut bukan dikembangkan oleh ilmuwan, melainkan oleh prajurit.
 
Jadi, Letkol Simon jelas merupakan aset penting bagi TNI AD karena merupakan satu dari sedikit prajurit yang punya kemampuan sebagai ilmuwan.
 
Kedua, inovasi yang ditemukannya mengangkat citra TNI AD di mata masyarakat. Sebab, inovasi yang ditemukannya sangat berguna dalam membantu masyarakat miskin yang kekurangan air. Inovasinya tidak terkait dengan peralatan atau teknologi senjata, namun inovasi dalam bentuk pengabdian TNI kepada rakyat.
 
Puncak apresiasi Jenderal Gatot terhadap inovasi adalah pemberian penghargaan dan promosi jabatan kepada Letkol Simon.
 
Tak pelak, Jenderal Gatot telah membawa budaya inovasi ke tubuh institusi TNI AD. Dengan sikap pimpinan seperti Jenderal Gatot, niscaya akan muncul prajurit-prajurit inovator di masa depan.
 
Air penghidupan
 
Simon yang menghabiskan masa kecilnya di Soe, NTT, sebenarnya ingin menjadi insinyur. Namun, ia tidak ingin membebani orang tuanya untuk membayar uang kuliahnya.
 
Karena itu, setelah lulus SMA Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah, tahun 1993, Simon masuk Akademi Militer untuk menjadi tentara.
 
Setelah melewati sejumlah penugasan tour of area and tour of duty serta pendidikan, Simon kemudian kembali ke provinsi kelahirannya di NTT untuk menjabat Dandenpal “B”09-12-03 Kupang Paldam IX/Udayana. Dari sinilah, takdir membawanya sebagai inovator pengembang pompa hidrolik Gatot.
 
“Permasalahan utama di NTT adalah air, sejak dulu hingga sekarang. Ketiadaan air membuat masyarakat sulit bercocok tanam sehingga ekonomi tidak berjalan. Akhirnya, masyarakat terjerat kemiskinan dan keterbelakangan,” kata Simon yang pada HUT MURI ke-27 awal Januari 2015 lalu mendapat penghargaan sebagai pemrakarsa pengembangan teknologi pompa hidrolik terbanyak.  
 
Sulitnya air juga dirasakan langsung oleh Simon dan keluarganya. Saat mengunjungi sanak saudara di Desa Sunu, Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Simon dan istri merasakan betul sulitnya mendapatkan air.
 
“Selanjutnya saya dan istri berdiskusi mencari solusi masalah air untuk menolong masyarakat. Solusi awal adalah menggunakan pompa hidrolik, mengingat di tempat tersebut listrik juga sulit. Kemudian, saya melakukan riset dan uji coba pompa,” ujar Simon.
 
Menurut Simon, dalam proses pembuatan pompa hidrolik, ia juga terinspirasi dari mekanisme tolak balik meriam. Secara umum, dasar pembuatan pompa hidrolik adalah mendorong air melawan gravitasi dengan mengaplikasi mekanika fluida (Hukum Pascal, Archimedes, dan kontinuitas Bernoulli) sebagai dasar pembuatan pompa hidrolik.
 
“Setelah melakukan survey keadaan Timor Tengah Selatan, saya menyimpulkan bahwa masyarakat memerlukan pompa hidrolik untuk mengangkat air dari mata air di bawah ke bagian atas di mana masyarakat tinggal,” kata Simon.
 
Simon kemudian memutuskan untuk membangun instalasi pompa hidrolik Gatot pertama di Desa Sunu, desa kelahiran ayahnya.
 
“Pada 17 Mei 2014, saya datang ke Desa Sunu membawa beberapa bahan berat untuk pemasangan pompa hidrolik. Bersama masyarakat, saya membahas di mana akan dipasang pompa, termasuk posisi bak tampungan awal,” kata Simon.
 
Penduduk sekitar berdatangan untuk gotong royong membersihkan lokasi, termasuk penyatuan bagian pompa dan penyiapan pipanisasi. Pipa PE diulur dengan cara digantung pada sebuah kayu di antara pohon-pohon.
 
“Salah satu bagian terpenting yang harus dipastikan berfungsi adalah penyaluran air lewat tiga pipa dari mata air menuju ke bak pengirim sebelum dikirim ke pompa,” ujar Simon.
 
Partisipasi masyarakat sangat banyak, termasuk Kepala Desa Sunu yang juga hadir mendampingi warganya. Sebagian besar pekerjaan pemasangan pompa dapat diselesaikan hari itu. Penyelesaian akan dilanjutkan keesokan harinya. Dari Desa Sunu, Simon kembali ke Soe untuk bermalam.
 
“Esoknya, saya kembali ke Desa Sunu. Pipa penyaluran ditambah hingga panjangnya mencapai 500 meter dengan tinggi sekitar 200 meter dari pompa. Nantinya air akan ditampung di reservoir,” kata Simon.
 
Akhirnya, air dapat mencapai ujung pipa. Masyarakat pun bersuka cita. Kini air sudah dekat.
 
Setelah itu, Simon makin bersemangat membantu masyarakat dengan menyediakan pompa hidrolik buatannya. Dalam beberapa bulan, Simon telah memasang 13 buah pompa hidrolik di daerah-daerah terpencil di Provinsi NTT yang kurang air.
 
Sepak terjang Simon kemudian didengar pimpinan AD. Kasad saat itu, Jenderal Gatot Nurmantyo, kemudian mendorong jajarannya untuk ikut mengaplikasikan lebih banyak pompa di wilayah-wilayah masing-masing.
 
“Saat ini pompa-pompa tersebut telah dan akan dipasang di Kalimantan, Maluku, Wonosari, Serang Banten, Bali, NTB dan NTT. Hingga kini saya telah membuat 103 pompa dan kemungkinan masih akan terus bertambah, termasuk di antaranya beberapa unit yang sedang dipasang di daerah Subang dan Arjasari, Banjaran,” ujar Simon.
 
Kesinambungan kegiatan penyediaan pompa hidrolik yang bebas energi merupakan keniscayaan karena  air merupakan kebutuhan mendasar  manusia. Pasokan air di lokasi-lokasi terpencil yang jauh dari infrastruktur listrik dan bahan bakar minyak menjadi sangat penting.
 
Tanpa hiruk pikuk, dalam kesenyapan berita di media, ke-103 unit pompa TNI telah mengalirkan lebih dari 3,5 juta liter air setiap harinya untuk masyarakat pedesaan yang sangat membutuhkan di pelosok-pelosok wilayah Tanah Air.

“Biarlah air kehidupan akan terus bercerita tentang peran TNI AD untuk masyarakat,” ujar Simon.


(Tim Indonesia Berinovasi)

Tags : belum ada tag
KOMENTAR
Rating