Laci, Tempat yang tak Beres Tersembunyi

17 Dec 2015

JAKARTA—Saya pernah batal bekerja di sebuah perusahaan pada hari ketika diajak berkeliling mengenal tempat kerja baru itu. Penyebabnya sederhana, mungkin bahkan terlalu cetek untuk sebagian orang.

Saya melihat nyaris semua meja kerja wartawan di tempat yang sedianya menjadi kantor baru saya itu bersih. Tak ada tumpukan kertas, tak ada buku terbuka yang menunjukkan benda itu tengah dibaca, tak ada koran dan majalah terserak, atau undangan-undangan yang saat itu masih seimbang banyaknya dengan undangan via email.

Di akhir sesi putar-putar menelusuri kantor, saya kemudian menemukan jawaban kondisi bersih itu: penyeragaman. Setiap karyawan perusahaan tersebut wajib memakai seragam. Paling tidak saat berada di kantor. Jadi, alih-alih besoknya saya menjadi karyawan baru, hari itu pun saya meminta maaf. Saya batal pindah dari perusahaan lama yang membolehkan saya memakai kaos oblong ditutup dengan kemeja lengan panjang dengan lengan tergulung dan dada dibiarkan tak terkancing.

Tentu saja tak ada rumus rigid bahwa persona kreatif adalah orang-orang dengan jenis seperti saya deskripsikan di alinea di atas.  Begitu pula jangan pernah kelilipan salah sangka bahwa mereka yang berpantalon, jas dan dasilah yang menghasilkan kerja-kerja bersih. Dari gedung bioskop saja kita tahu, kecuali dalam serial The Sopranos, para mafia di film-film Hollywood selalu memakai kemeja terseterika rapi, lengkap dengan setelan saat melakukan aksi kotor dan pembunuhan. Belum lagi kalau kita belejeti dalaman para politisi di ruang-ruang parlemen kita, tampaknya.

Sebaliknya, bukankah kita pun terlalu sering menyaksikan  para ’seniman’ bergaya hippy  tak lebih dari sekadar tukang gaya, ketimbang mereka yang hidup dan besar dengan karya? Artinya, jangan pernah gampang menilai orang hanya dari penampakan luar mereka.

Meja bersih pun sebenarnya hanya kondisi real dari tiga kemungkinan ini: semua pekerjaan beres tak tertunda. Atau volume pekerjaan yang punya meja rendah. Atau ketiga, karena semua yang akan memberantakkan meja telah disembunyikan dengan baik di laci atau di sebuah sudut lemari.  Artinya, kalau melihat meja kerja yang bersih, bahkan kita boleh curiga ada setumpuk pekerjaan tak terselesaikan di laci.

Tetapi jujur saja, saya juga tergolong kalangan yang suka meja kerja yang bersih, sesuka saya melihat meja itu berantakan dengan segala yang dibutuhkan manakala seseorang bekerja. Dan karena sejauh ini hanya setahun dalam kehidupan bekerja saya di luar dunia jurnalistik, artinya saya suka meja kerja seorang wartawan memang penuh aneka bahan tulisan manakala ia tengah menulis. Bukankah kita pun tahu, kita tak mungkin—dan memang jangan, sepenuhnya mengandalkan Tuan Google dan Paman Wikipedia saat menulis?

Saya suka wartawan junior saya akan terdiam sejenak, bengong, lalu membuka-buka buku, kamus atau ensiklopedi sebelum meneruskan tulisan yang tengah ia garap. Ada kesan mencuat bahwa ia serius memberikan pembacanya tulisan yang terkonfirmasi. Ada kesediaan untuk sejenak mencari yang valid dari serangkai pilihan kata yang bisa ia gunakan. Kreativitas, bagi saya mengharuskan seseorang mengujinya sejak awal sebelum menghidangkannya untuk dibaca khalayak.

Asal saja di meja itu tak ada sekian cangkir dengan endapan kopi di dasarnya. Apalagi bila ia mewajibkan dirinya terus-menerus menghisap nikotin dan mencemari udara sekitar.

 

Sebab satu hal saya yakin, tak ada survey apapun hingga saat ini yang memberikan justifikasi bahwa merokok akan membuat sebuah tulisan menjadi lebih bermakna dan punya arti. [ ekalaya]

Tags : #ulasan
KOMENTAR
Rating