Negeri Indah Pun Masih Perlu Inovasi

28 Jan 2016

Kekayaan alam dan budaya Indonesia berkali lipat lebih hebat dibanding Malaysia dan Thailand. Arief Yahya menjadi tokoh penting inovasi Indonesia di dunia pariwisata.

JAKARTA—Kamis, 21 Januari 2016, seolah menjadi penegas pertanda berkembang pesatnya pariwisata Indonesia. Melengkapi berbagai penghargaan yang diperoleh sebelumnya, hari itu Indonesia meraih tiga penghargaan United Nation World Tourism Organization (UNWTO),  organisasi pariwisata dunia PBB. 

Pada gala ceremony yang digelar di Madrid, Spanyol, itu nama Indonesia disebut-sebut untuk kemenangan berikut: 

  • Peringkat pertama untuk ‘Innovation in Public Policy and Governance’, yang diraih Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
  • Peringkat kedua untuk ‘Innovation in Enterprises’ yang diraih Garuda Indonesia dan Coca Cola Amatil untuk kegiatan CSR, Bali Beach Clean Up.
  • Peringkat kedua untuk katagori ‘Innovation in Non Govermental Organizations’, atas kegiatan ‘Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali’, yang diraih Yayasan Karang Lestari, Bali. 

Anugerah penghargaan tersebut sangat layak dibanggakan. Tidak hanya karena dengan perolehan tersebut Indonesia meraih tiga dari enam katagori penghargaan yang ada, alias menyabet setengahnya. Ada dua penghargaan atas individu, yakni UNWTO Ulysses Prize for Excellent in The Creation and Dessimination of Knowledge dan UNWTO Life Time Achievement Award. Selain itu ada empat penghargaan kegiatan spesifik, yakni UNWTO Award for Innovation in Public Policy and Goverment, UNWTO Award for Innovation in Enterprise, UNWTO Award for Innovation in Non Govermental Organizations, dan UN-WTO Award for Innovation in Research and Technology.

Yang lebih membanggakan, anugerah UNWTO adalah penghargaan pariwisata paling bergengsi di dunia, dengan sistem penjurian paling ketat.

“Ini penghargaan kredibel dari organisasi resmi pariwisata yang beranggotakan 154 negara dan lebih dari 400 anggota yang mewakili sektor swasta,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya. Arief tak menyembunyikan kegembiraannya atas prestasi tersebut. 

Ketiga penghargaan dunia tersebut otomatis melengkapi penghargaan internasional untuk pariwisata Indonesia yang beruntun diterima dalam tenggang waktu berdekatan. Sebelumnya, pada pertengahan Oktober 2015 lalu, Indonesia juga meraih tiga penghargaan pada perhelatan World Halal Travel Summit yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ketiga penghargaan dunia yang diraih Indonesia itu adalah World's Best Family Friendly Hotel untuk Hotel Sofyan Betawi, Jakarta; serta World's Best Halal Honeymoon Destination dan World's Best Halal Tourism Destination yang keduanya diraih kota Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Alhasil, ketiga kemenangan tersebut mengukuhkan Indonesia sebagai destinasi wisata halal kelas dunia. Pasalnya, untuk meraih World's Best Halal Honeymoon Destination itu Lombok harus menyisihkan Abu Dhabi, UAE; Antalya (Turki), Krabi (Thailand) dan Kuala Lumpur (Malaysia). 

Sedangkan dalam kategori World's Best Halal Tourism Destination, Lombok harus mengalahkan Amman (Jordan), Anatalya (Turki), Kairo (Mesir), Doha (Qatar), Istanbul (Turki), Kuala Lumpur (Malaysia), Marrakech (Maroko) dan Tehran (Iran). 

“Ini benar-benar kebanggaan untuk Indonesia. Saya senang bisa mengalahkan Kuala Lumpur. Alhamdulilah,” kata Menpar Arief, saat itu.

Sementara, di awal tahun ini Bali juga kian mengukuhkan diri sebagai destinasi dunia yang membanggakan. Majalah Travel+Leisure Amerika Serikat, kembali menobatkan Bali sebagai pulau terindah di dunia, pada peringkat kedua. Pulau Galapagos di Equador, yang identik dengan peninggalan kekayaan flora dan fauna, tahun ini terpilih pada peringkat pertama. 

Semua prestasi pariwisata tersebut hanyalah sebagian kecil contoh yang menegaskan bahwa Indonesia memang negara yang kaya akan keindahan alam dan budaya. Dua aspek yang menjadi tulang punggung dunia pariwisata. 

Sayangnya, baru dalam tahun-tahun terakhir ini pariwisata tegas-tegas diharapkan menjadi salah satu leading sector perekonomian Indonesia. Sebelumnya, meski data statistik menunjukkan potensi yang sangat bisa diharapkan, pembangunan dunia pariwisata Indonesia terkesan setengah hati. 

Misalnya, baru setahun terakhir ini publik mendengar dengan tegas bahwa pemerintah berniat menjadikan pariwisata sebagai salah satu tulang punggung ekonomi negara. Baru setahun terakhir ini pula rakyat mendengar penegasan pemerintah untuk mengejar target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019. Sementara sejak sekian dekade sebelumnya pun, kita tahu kekayaan alam dan budaya Indonesia berkali lipat lebih hebat dibandingkan, misalnya, Malaysia dan Thailand, yang sudah berhasil menarik kunjungan turis asing puluhan juta orang setiap tahunnya. 

Seolah baru satu dua tahun ini saja negara ini melek dengan potensi besar yang kita miliki. Lalu, pelan namun pasti, dunia pariwisata kita pun kian berkembang dengan bertambahnya kunjungan wisatawan. Perlahan pula, timbul keyakinan untuk mematok target yang lebih ambisius. Misalnya, setelah menargetkan kunjungan 10 juta wisman pada 2015 lalu –dan sukses besar, pemerintah menargetkan angka lipat dua pada 2019 nanti: 20 juta! 

Sepintas, seolah angka itu terlalu ambisius. Namun bila dikalkulasi dengan baik, dengan menghargai secara proporsional semua potensi pariwisata kita, angka itu sebenarnya moderat.    

Arief Yahya tak pelak merupakan salah seorang tokoh penting di balik semua perkembangan tersebut. Arieflah tokoh yang pertama kali menyadarkan kita tentang semua potensi yang tak teraktualkan dengan baik itu. Arief pula orang yang pertama memacu dunia pariwisata Indonesia dengan menetapkan target. 

"Sektor pariwisata tahun 2019 harus dapat memberikan kontribusi pada PDB sebesar 8 persen, devisa sebesar Rp 240 triliun, lapangan kerja bagi  13 juta orang, target kunjungan wisman sebanyak 20 juta wisman dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia," kata Arief Yahya. Untuk itu, dengan tegas Arief menetapkan 2016 sebagai tahun percepatan. 

Tentu saja Arief tidak asal njeplak. Sebelum menegaskan tahun ini sebagai tahun percepatan, berbagai pondasi telah ia tanamkan. Misalnya, melakukan deregulasi berupa memperbanyak pemberian Bebas Visa Kunjungan (BVS). Dengan dukungan Presiden via Perpres No.104 Tahun 2015, sudah 90 negara dibebaskan dari kewajiban visa. Jumlah itu akan segera meningkat menjadi 174 negara. Pemerintah memproyeksikan kebijakan BVK itu akan menarik kedatangan 1 juta wisman, dengan devisa sebesar 1 miliar dolar AS.

Deregulasi lainnya dengan menghapus asas Clearance Approval for Indonesia Teritory (CAIT), via Perpres 105 Tahun 2015. Kebijakan itu diprediksi akan meningkatkan jumlah kunjungan perahu pesiar (yacht) ke Indonesia dalam lima tahun ke depan. Estimasinya, jumlah kunjungan yacht akan mencapai 5.000 perahu pesiar, dengan perolehan devisa 500 juta dolar AS.

Sejalan dengan itu juga dilakukan deregulasi terhadap asas cabotage untuk cruise atau kapal pesiar asing, dengan membolehkan penumpangg naik turun di lima pelabuhan di Indonesia yaitu; Belawan, (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Benoa (Bali) dan Soekarno – Hatta (Makassar). Dengan cara ini diproyeksikan pada 2019 nanti jumlah kunjungan cruise asing ke Indonesia mencapai 1.000 kapal pesiar dengan perolehan devisa mencapai 300 juta dolar AS.

Arief Yahya juga paham betul pentingnya brand dan citra. Untuk itulah, sejak awal ia gencar mempromosikan Indonesia ke luar negeri. Setelah tahun lalu gencar melakukan kampanye branding Wonderful Indonesia, antara lain dengan menempelnya di tubuh ribuan taksi di Kota London, tahun ini anggaran untuk itu bertambah menjadi Rp 1,5 triliun. 

"Kita pakai untuk mem-branding Indonesia karena brand kita masih lemah. Orang luar negeri masih kenal Bali dibandingkan Indonesia. Makanya kita perkuat country branding," kata Deputy Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kemenpar, I Gde Pitana. 

Arief dengan gesit menggandeng Ogilvy Public Relations, konsultan international yang sudah eksis dengan 69 kantor di seluruh dunia. Demi memaksimalkan branding Indonesia di Timur Tengah, Arief lebih memilih menggunakan Bahasa Arab untuk mempromosikan Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Inggris yang universal.

Di Tiongkok, Kemenpar membuat video wisata bahari yang memperlihatkan keindahan pantai, laut, sampai ke dasar laut yang dikemas dalam bahasa Tiongkok. Arief sempat mengatakan, banyak orang yang memandang sebelah mata tentang langkahnya menguatkan branding Indonesia di mancanegara. Tapi, ia yakin, dengan cara ini justru Indonesia bisa menggaet lebih banyak wisman lagi.

Arief mengklaim, upaya branding yang telah dilakukan kementeriannya telah membawa Indonesia ke posisi yang lebih baik di dunia pariwisata. Tahun lalu dengan branding yang telah dilakukan di berbagai negara, pariwisata Indonesia segera berada di urutan 40 dari 140 negara. Padahal pada 2014 lalu posisi Indonesia masih berada di peringkat 70. 

Sejalan dengan itu, Arief juga gencar melakukan digitalisasi. Ia menunjuk fakta bahwa pasar utama pariwisata Indonesia, Tiongkok, misalnya, 68 persen turisnya mendapatkan informasi objek wisata via internet. Sementara ada lebih dari 100 juta orang Tiongkok setiap tahun berjalan-jalan ke luar negeri. “Hanya dengan digitalisasi, kita bisa menarik lebih banyak turis Tiongkok dibanding hanya 1 persen saat ini,” kata Arief. 

Ia yakin, hanya dengan strategi parallel dan menerapkan digitalisasi, target perolehan kedatangan turis 20 juta itu mampu terwujud. “Saya akan kejar dengan digital di semua lini. Ya marketing, ya organizing, ya controling, ya promotion, ya penyiapan back end, dan semuanya aktivitas kreatif yang berbasis pada teknologi informasi,” kata dia. 

Senyampang itu, pengembangan 10 destinasi wisata prioritas dengan mengggunakan pendekatan konsep single destination single management juga dilakukan. “Dalam waktu dekat ini akan lahir Badan Otorita Toba, kemudian diikuti Badan Otorita Borobudur bisa mencakup Sangiran, Karimun Jawa, Dieng dan Joglo Semar. Dalam struktur badan tersebut sebagai Dewan Pengarah Menko Maritim, Ketua Harian Menpar dengan anggota menteri-menteri terkait termasuk Menpan, “ kata Arief.

Ia yakin, pembangungan 10 destinasi wisata prioritas tersebut merupakan terobosan dalam mengembangkan destinasi yang memiliki daya saing global tinggi.

Obsesi semua langkah itu sebenarnya untuk secepatnya mengusir kenyataan pahit bahwa penerimaan devisa Indonesia baru 10 miliar dolar AS, hanya separuh Malaysia dan seperempat Thailand, akan segera berubah manis. “Ini negeri yang lebih indah, lebih menawarkan banyak hal dibanding mereka. Wajar jika kita berharap melampaui mereka,” kata Arief. [ ekalaya ] 

 

KOMENTAR
Rating
Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Terkini
Gubernur Jatim: Inovasi Pelayanan Publik Harus Ram ...
13/12/2018 :: Jawa Tengah - Kota Semarang
Keren Nih, Parkir Kendaraan di Monas Sekarang Paka ...
10/12/2018 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Warga Bekasi Bisa Memantau Keberadaan Trans Patrio ...
11/12/2018 :: Jawa Barat - Kota Bekasi
KAI Perkenalkan Inovasi Kereta Kesehatan Kepada An ...
12/12/2018 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
LPMUKP Telah Memberi Manfaat 11.613 Wirausaha Kela ...
06/12/2018 :: Jawa Timur - Kota Malang

Inovasi adalah pembeda antara pemimpin dan pengikut.

Steve Jobs (Founder Apple)