Budaya Literasi Sebagai Akar Inovasi Bangsa

23 Apr 2018

Penulis: Galih S Mahardhika

indonesiaberinovasi.com - “Dimana anda dapatkan semua ide ini?” tanya seorang wartawan, “saya dapatkan semua ini dari buku”, jawab Ellon Musk. Dialog kecil itu berawal dari seorang wartawan yang penasaran dengan sosok Ellon Musk.

Mungkin bisa dibilang Ellon Musk adalah sosok yang sangat inspiratif bagi kalangan pengusaha dan penemu didekade ke-2 abad Millenium ini. Banyak hal yang tercipta melalui tangannya, sebut saja Space X, Tesla, dan Hyperloop.

Melalui wawancara tersebut diungkapkan pemiliki nama penggilan Musk, ada beberapa rujukan buku utama yang menjadi ide besarnya.

Salah satunya adalah buku yang berjudul “Structure: Or Why Things Don’t Fall Down” karya J.E. Gordon, buku tersebut adalah inspirasi utama bagi Musk untuk membuat Space X.

Buku tersebut adalah buku yang ringan bagi pemula untuk mempelajari tentang fisika terapan. Buku ini mengantarkan Space X untuk meroket di ruang angkasa seperti yang telah ditayangkan belum lama ini.

Literasi Sebagai Kemajuan Bangsa

literasi suatu bangsa sangat menentukan kualitas bangsa tersebut. Kemampuan dan daya literasi masyarakat sangat menentukan bagimana masyarakat dalam bekerja, berpikir, dan menentukan keputusan.

Tidak hanya itu, literasi mampu membawa bangsanya jauh lebih sejahtera. Hal ini terjadi dikala Amerika Serikat mengalamai krisis perekonomian yang hebat di tahun 1930-an atau disebut “Great Depression”.

Pada tahun 1930-an Amerika Serikat hancur perekonomiannya, hampir seluruh sendi perekonomiannya runtuh. Dimulai dari penutupan pabrik-pabrik, toko-toko yang tutup, nilai saham terjun bebas, hingga total penggangguran mencapai 25 persen dari seluruh total angkatan kerja.

Tentu penggangguran mencapai seperempat merupakan angka yang sangat mengerikan bagi sebuah negara, Amerika Serikat benar-benar hancur hingga jurang yang terdalam.

Hal ini tentu menghancurkan berbagai mata pencaharian rakyatnya, tetapi rakyatnya tidak menyerah menerima keadaan. Keadaannya sungguh aneh, harusnya pada saat krisis perekonomian yang hebat membuat rakyatnya sulit untuk mengembangkan dirinya dan banyak mengharapkan bantuan pemerintah.

Hal yang terjadi adalah ada beberapa ciptaan terjadi pada saat ditengah krisis, diantaranya radio untuk mobil, mesin foto kopi, kue chocolate chips, dan supermarket.

Produk-produk tersebut dibuat pada saat ditengah krisis dan kesulitan untuk mencari pekerjaan, akhirnya mereka menemukan hal tersebut sebagai pendapatan baru.

Kejadian ini berkolerasi dengan buku “How to Read a book” karya Moltimer J. Adler dan Charles Van Doren. Dalam bab pertama buku tersebut menjelaskan bahwa masyarakat Amerika Serikat yang kelahiran 1880 sampai 1910 adalah generasi pembaca terbaik, karena pada masa itu hampir setiap anak muda dan orang tua membaca buku dimanapun mereka berada.

Penjualan buku yang paling laris adalah buku-buku yang mengajarkan membaca yang cepat dan efektif, pelatihan yang paling laris adalah pelatihan membaca buku yang paling cepat untuk memahami.

Hasilnya mereka yang hidup muda dimasa 1920 sampai 1950 adalah generasi terbaik di Amerika Serikat dalam membangun fondasi utama menuju Amerika Modern.

Cerita tersebut menggambarkan masyarakat Amerika Serikat yang terbentuk karena budaya membaca yang dilakukan secara masif.

Semua masyarakat berusaha untuk meningkatkan kualitas bacaannya, semua masyarakat saling berlomba-lomba dan mau mengeluarkan dananya untuk meningkatkan kualitas membacanya.

Hasilnya hari ini Amerika Serikat adalah Negara Adidaya yang mampu memberikan pengaruhnya hampir disegala bidang, khususnya berbagai inovasi penting dalam kehidupan manusia.

Indeks Literasi dan Inovasi Bangsa

Kemajuan dalam teknologi saat ini membuat semua orang dengan mudah mendapatkan informasi berbagai hal, bahkan budaya hari ini mendapatkan informasi dari media sosial atau hanya sekedar broadcast dari grup-grup whats app.

Kemajuan teknologi ini membuat masyarakat makin banyak meninggalkan buku sebagai dasar pencarian informasi. Bukan teknologi dan tulisan digital menjadi tidak penting, tetapi pada saat buku ditinggalkan hanyak untuk tulisan-tulsian pendek akan mengurangi kemampuan dan minat baca untuk sebuah buku.

Padahal minat buku sangat penting bagi masyarakat khususnya dalam bidang inovasi di masyarakat.

Melihat pentingnya kemampuan membaca, ada sebuah penelitian ilmiah mengenai peringkat minat baca yang bertajuk “World’s Most Literate Nations” dari Central Connecticut State University pada tahun 2016, adapun 10 teratas adalah:

Negara                        

Finlandia (1)                         

Norwegia (2)                 

Islandia (3)                   

Denmark (4)                       

Swedia (5)                     

Swiss (6)                          

Amerika Serikat (7)                

Jerman (8)       

Latvia (9)                           

Belanda (10)                      

Dari urutan itu dapat terlihat sebagian berasal dari negara-negara yang bisa dibilang perekonomian dan sistem pendidikannya yang termasuk terbaik.

Setelah melihat data tersebut, bagaimana dengan inovasi dari negara tersebut. Dalam tulisan ini menggunakan data dari Bloomberg Innovation Index 2018.

Pada hasil survey tersebut melihat berdasarkan paten yang dihasilkan, Penelitian & Pengembangan, penggunaan High-tech, produktivitas, dan nilai tambah produksinya.

Hasilnya setengah dari 10 peringkat tertinggi untuk minat baca juga masuk 10 besar untuk negara paling inovatif, sisanya masuk dalam 25 besar untuk negara yang paling inovatif.

Data tersebut memperlihatkan bagaimana pentingnya negara untuk meningkatkan minat baca bagi masyarakat. Minat baca cukup menentukan inovasi yang bisa dihasilkan bangsa tersebut.

Finlandia sebagai peringkat tertinggi sebagai negara paling minat untuk membaca membuat kebijakan untuk meningkatkan minat baca.

Kebijakan ini dalam bentuk program “Kembali Kebuku”, gerakan ini muncul setelah sebuah riset membuat kesimpulan bahwa perkembangan teknologi informasi khususnya gadget membuat dangkal dan miskin dalam perbendaharaan kata, dan dampaknya membuat orang lemah dalam kemampuan berpikir & mengingat.

Dalam rangking minat baca tersebut Indonesia berada peringkat terendah kedua, suatu angka yang sangat menyedihkan. Ditengah gempuran berbagai produk dan pengaruh budaya bangsa lain, Indonesia masih kurang akan minat bacanya.

Ini adalah tugas bersama untuk menciptakan negara yang kuat dan tinggi dalam minat baca, bukan sekedar untuk membaca tapi membentuk negara yang siap dalam menghadapi berbagai tantangan.

Perlu terus ditumbuhkembangkan gerakan-gerakan yang mengajak masyarakat untuk membaca, karena melalui bacaan akan terbentuk bangsa yang inovatif.

 

“Seorang pembaca hidup seribu tahun sebelum dia meninggal… seseorang yang tidak pernah membaca hidupnya hanya sekali”, George R. R. Martin

 

Tags : belum ada tag
KOMENTAR
Rating

Inovasi adalah pembeda antara pemimpin dan pengikut.

Steve Jobs (Founder Apple)