Mesin Pengubah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak Ala Tukang Sablon 

23 Jul 2018

Indonesiaberinovasi.com, BANDUNG - Kesederhanaan tak lantas selalu membuat seseorang menjadi enggan berkreasi serta berinovasi. Seperti apa yang dilakukan Dimas Agus Wijanarko, lelaki berusia 42 tahun, yang berprofesi sebagai seorang tukang sablon.

Meski hidup dalam kesederhanaan sebagai tukang sablon, pria asal Jakarta ini tetap mampu berinovasi. Ia membuat mesin sederhana, sesederhana hidupnya, yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Seperti premium, solar dan minyak tanah.

Dimas berkisah tekadnya mengolah sampah muncul dari hobinya menadki gunung. Keresahan pun muncul saat ia melihat banyak sampah plastik bertebaran di kawasan pegunungan. Pada 2014 ia mencari informasi tentang tata cara mengolah sampah. "Saya ketemu teman, namanya Jalaludin Rumi. Ia yang memberi informasi kalau plastik itu bisa diolah," ungkapnya.

Ia pun lalu mencoba menerapkan apa yang disampaikan temannya. Kemudian di tahun yang sama ia melakukan percobaan berlandaskan teori yang diberikan Jalaludin Rumi, dan dari beberapa artikel yang ia baca. Sampai akhirnya ia berhasil membuat alat tersebut. 

Dimas yang kelahiran Surabaya itu pun sempat memberikan workshop beberapa waktu lalu. Kepada para pegawai negeri sipil (PNS), di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kota Bandung, Jawa Barat. Demi menjelaskan bagaimana cara kerja mesin kecil yang ia buat.

Secara sederhana, kata Dimas, mesin yang ia buat menggunakan bahan yang mudah didapat. Seperti pipa, keran dan beberapa bagian terbuat dari besi dan alumunium. Ia menuturkan, proses pengolahan menggunakan metode destilasi kering. "Plastik kering yang sudah dipilah atau dicacah, dimasukan ke dalam tabung reaktor. Ditutup rapat kemudian dipanaskan menggunakan kompor gas bersuhu tinggi," ujarnya.

Sistem kerjanya, dengan pemanasan suhu yang cukup tinggi, minimal atau tanpa oksigen. Sehingga terjadi reaksi kimia dalam tabung reaktor. Menghasilkan gas dan berubah menjadi cair (bahan bakar). "Prosesnya sekitar 5-10 menit. Idealnya, 1 Kg plastik dapat menghasilkan satu liter bahan bakar jenis Premium," kata Dimas.

Meski dengan cara kerja sederhana, bahan bakar yang dihasilkan pun berkualitas baik. "Kami setiap hari melakukan riset dan mencatat data. Akhirnya kami melakukan uji lab Sucofindo. Yang kami dapat, kandungan cetane dari solar kami 63,5 di atas Pertamina Dex yang hanya punya 54,3," ungkapnya.

Ketekunannya membuahkan hasil. Bermodal informasi dari buku dan artikel, ia pum sukses membuat mesin pengolah sampah plastik dengan beragam ukuran. Dimas selanjutnya membentuk komunitas pencinta lingkungan bernama Get Plastic. "Intinya mau belajar. Semua orang bisa. Saya ingin buktikan, walaupun saya tukang sablon tapi saya bisa," tuturnya. 

Kejelian Dimas manfaatkan potensi sampah plastik terpantau hingga luar negeri. Beberapa waktu lalu, ia didatangi perwakilan pemerintah Jepang. Menawarkan kerja sama agar karyanya dikembangkan di Negeri Sakura. "Mereka sangat tertarik. Indonesia memang terkenal memiliki kandungan minyak di dalam plastik cukup tinggi dan bagus. Semua jenis plastik, LDPE dan ADPE 80-85 persen punya kandungan minyak, sisanya residu black carbon atau mikroplastik," tambahnya.

Namun ia belum memberi keputusan untuk menyepakati kerja sama. Khawatir ikatan itu malah meredupkan tekad awalnya, ingin memberi solusi masalah sampah di Indonesia. "Kami masih berpikir dan belum ambil kesepakatan. Karena kalau bekerja sama dengan Jepang, kami harus punya industri besar. Itu akan mempengaruhi nilai-nilai kepedulian kami kepada lingkungan," tuturnya.

Meski dengan keterbatasan, Dimas bersama komunitasnya kini merancang perjalanan berkeliling Pulau Jawa dan Bali untuk melakukan sosialisasi dan kampanye tentang sampah plastik. Tak tanggung-tanggung, ada 15 daerah yang akan ia datangi dengan menggunakan Vespa.

"Berangkat 19 Mei dari Jakarta dan diprediksi sampai 30 Juli finish di Bali. Saya pakai Vespa dengan bahan bakar sampah plastik. Di setiap titik saya akan melakukan workshop, edukasi, dan kampanye sampah plastik," jelasnya.

Foto     : Istimewa

KOMENTAR
Rating
Jawa Barat - Kab Bandung
Terkini
Kayuh Wooden Bike : Obat Macet dan Solusi Cegah Po ...
15/08/2018 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Nozzle Digital, Inovasi Pencegahan Kecurangan SPBU
15/08/2018 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Tangan Tuan Takur, Inovasi untuk Mencegah Kematian ...
14/08/2018 :: Kalimantan Selatan - Kab Tanah Bumbu
Charger Ponsel Gratis di Lapangan Monas Persembaha ...
14/08/2018 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Mala'Bi, Aplikasi Online Berbasis Android di Provi ...
13/08/2018 :: Sulawesi Barat - Kab Mamuju Tengah