Pemerintah Kota Yogyakarta Hadirkan Gandeng Gendong untuk Pengentasan Kemiskinan

23 Jan 2019

Indonesiaberinovasi.com, YOGYAKARTA - Sejauh ini berbagai elemen, khususnya elemen pemerintah, terus berupaya mencari cara dalam pengentasan kemiskinan di tengah-tengah masyarakat.

Seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, yang secara resmi meluncurkan program 'Gandeng Gendong'. Sebuah program yang melibatkan lima elemen 5K, mulai dari kota, korporasi, kampus, kampung dan komunitas.

Seperti dikatakan di awal, salah satu tujuan dari program ini adalah bagaimana Pemkot Jogja mempercepat upaya-upaya dalam pengentasan kemiskinan.

Dikatakan Edy Muhammad, Kepala Bappeda Kota Jogja, program Gandeng Gendong melibatkan seluruh elemen pembangunan yang ada. Perwujudannya dilakukan lewat pengembangan pemangku kebijakan, sesuai kewenangan masing-masing.

"Visinya bersama, bersatu, memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat. Misinya ada tiga, yakni menanamkan nilai etika budaya gotong royong, mewujudkan Gandeng Gendong, dan meningkatkan partisipasi Stakeholder," kata Edy.

Ia menjelaskan, program yang didasari Peraturan Walikota tentang Gandeng Gendong ini, dilaksanakan dengan memperkenalkan kepada seluruh elemen masyarakat. Maka itu, program ini melibatkan lima unsur yang tergabung dalam 5K.

Edy berharap, peluncuran program Gandeng Gendong akan menjadi titik awal peran 5K, untuk masing-masing mengembangkan dan memberdayakan Kota Yogyakarta.

Hal senada disampaikan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi. Menurutnya, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang sering disoroti karena tingkat kemiskinan yang dibilang tinggi. Baik kesenjangan maupun ketimpangan.

"Kita harus punya sikap, supaya bisa mengurangi gini ratio itu, angka kemiskinan Kota Yogyakarta sendiri 7,6 persen, Provinsi (DIY) 10 koma sekian persen dan secara nasional 12 koma sekian persen," ujar Heroe.

Walau tak setinggi provinsi apalagi nasional, ia mengingatkan, tetap ada warga Kota Jogja yang berada di bawah garis kemiskinan. Padahal, Data Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) menerangkan tersedia dana untuk mengatasi hal itu.

Tahun lalu, lanjut Heroe, ada Rp92 miliar lebih dana yang ditujukkan untuk melaksanakan program pengentasan kemiskinan. Bahkan, jumlah dana itu naik pada tahun ini, yaitu mencapai Rp110 miliar lebih.

Walau program seperti ini sudah ada bertahun-tahun dan dananya selalu besar, tapi pengentasan kemiskinan sepertinya tak bisa cepat dilakukan. Menurut Heroe, daerah Selatan dan Utara Kota Jogja angka kemiskinannya paling tinggi.

"Yang paling mengagetkan kita, ternyata banyak kampung dan kecamatan yang miskin itu, justru  berada di tempat-tempat yang menjadi destinasi wisata," katanya.

Gandeng Gendong sendiri akan dilaksanakan melalui sejumlah program. Seperti Simsnack, yang mengarahkan pembelian makanan OPD-OPD ke daerah masing-masing. Ada pula Sim Pemberdayaan, menerapkan NIK kepada tempat-tempat usaha.

Selain itu, akan ada Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) dan Satu Langkah Gemilang, yang akan memetakan data dan menentukan sasaran pasti. Menurutnya, semua dilakukan karena selama ini pengentasan kemiskinan lemah di data pasti target orang miskin.

"Kami OPD sepakat membeli harus di lingkungan masing-masing. Jika setahun dana makanan Rp38 miliar, per kelurahan bisa dapat Rp70 juta setahun. Kalau digunakan benar-benar, setiap tahun minimal bisa mengurangi 35 warga miskin," jelasnya.

Foto : Istimewa

KOMENTAR
Rating
Di Yogyakarta - Kota Yogyakarta
Terkini
Kemenhub dan ITS Proyeksikan 200 Kapal Terbuat dar ...
18/04/2019 :: Jawa Timur - Kota Surabaya
Kabupaten Sinjai Sabet Penghargaan Daerah Inovasi ...
16/04/2019 :: Sulawesi Selatan - Kab Sinjai
Inovasi Kementerian PANRB Dapat Pujian Peserta Sid ...
15/04/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Pentingnya Inovasi dan Teknologi untuk Kemajuan In ...
11/04/2019 :: Bengkulu - Kab Bengkulu Selatan
Bappeda Perdalam Ilmu Iptek dan Lomba Inovasi Daer ...
10/04/2019 :: Lampung - Kab Way Kanan