EDAT, Diagnosis dan Pengobatan Akurat Wabah Malaria di Teluk Bintuni

01 Feb 2019

Indonesiaberinovasi.com, TELUK BINTUNI - Usaha Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Bintuni menyelesaikan masalah wabah Malaria dengan program Early Diagnosis And Treatment (EDAT) menuai hasil memuaskan. Pada 2018 yang lalu, Kabupaten Teluk Bintuni berhasil menjadi pemenang United Nations Public Service Awards (UNPSA). 

Diagnosis dan pengobatan akurat melalui inovasi terbaru, dalam mengeliminasi Malaria dari wilayah Provinsi Papua Barat ini  menjadi pemenang dari kawasan Asia Pasifik untuk kategori 1. Yaitu Menjangkau yang Paling Miskin dan Rentan Melalui Layanan Inklusif dan Kemitraan.

EDAT merupakan kolaborasi antara Pemda, organisasi Non-Pemerintah, dan sektor swasta. Program  dilaksanakan melalui pembentukan Juru Malaria Kampung (JMK) atau spesialis Malaria. Bertujuan meningkatkan kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang identifikasi, pencegahan, dan pengobatan Malaria.

Melalui sistem ini pula, aparat terkait melatih penduduk desa sebagai petugas kesehatan, mengemas obat-obatan Malaria agar lebih mudah digunakan, dan memastikan kualitas asuransi yang terintegrasi.

Asisten Deputi Perumusan Kebijakan dan Pengelolaan Sistem Informasi Pelayanan Publik, Muhammad Imanuddin mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan EDAT, sebagai satu-satunya inovasi dari Indonesia yang meraih penghargaan dari UNPSA tahun 2018 ini. 

Imanuddin menambahkan, sejak tahun 2015 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) selalu mendorong dan melakukan pendampingan. Terhadap inovasi pelayanan publik untuk bisa ikut berkompetisi di tingkat dunia, khususnya UNPSA. Khusus tahun 2018 ini, lanjut Imanuddin, ada 21 inovasi yang diusulkan ke UNPSA.

Sebelum diusulkan ke UNPSA, Kementerian PANRB menggelar kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP). “Inovasi yang dinilai baik akan didorong dan diusulkan mengikuti UNPSA. Dalam hal ini Kementerian PANRB terus melakukan pendampingan, termasuk dalam penulisan proposal,” ujarnya.

Bumi Cendrawasih menempati urutan teratas, sebagai penyumbang kasus Malaria terbanyak di Indonesia. Tahun 2009, penderita Malarianya mencapai angka 115 per 1000 penduduk. Setelah diimplementasikan sejak 2010, sistem EDAT berhasil mereduksi wabah malaria. Tahun 2015, kasus malaria turun menjadi 2,4 per 1000 penduduk.

Pada 2017, program ini berhasil mereduksi penyebaran Malaria dari angka 9,2 persen ke angka 0,02 persen di 12 desa. Selain mengurangi penyebaran, program ini juga sukses mengurangi tingkat Morbiditas Malaria. Dari 115 penderita per 1000 penduduk (2009) menjadi 5 (lima) penderita dari 1000 penduduk (2016).

Foto : Ilustrasi / Istimewa

KOMENTAR
Rating
Papua Barat - Kab Teluk Bintuni
Terkini
Si Terpa Daya Jiwa Solusi Bagi Penderita Gangguan ...
17/02/2019 :: Jawa Tengah - Kab Klaten
Aplikasi SimPADU-PMI Sebagai Pelindung Pekerja Mig ...
16/02/2019 :: Jawa Timur - Kota Surabaya
e-FLPP Permudah Kredit Pemilikan Rumah bagi Masyar ...
15/02/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Aruna, Aplikasi untuk Bantu Nelayan Indonesia Eksp ...
13/02/2019 :: Kalimantan Barat - Kota Pontianak
Simanja, Inovasi untuk Kinerja ASN
13/02/2019 :: Kepulauan Riau - Kota Tanjung Pinang