Tusina Baraseger Bantu Tingkatkan Produktivitas Industri Kecil dan Menengah

03 Feb 2019

Indonesiaberinovasi.com, JAKARTA - Permasalahan biaya untuk memproses pembangkit energi sendiri yang cukup tinggi, dimana waktu produksi terkadang menjadi kendala tersendiri dalam melakukan efisensi waktu.

Disamping itu, kapasitas rendah acap kali menjadi permasalahan utama bagi industri kecil dan menengah (IKM) dalam menjaga daya saing usahanya.

Berawal dalam problematika tersebut, tim inovator dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang tekMIRA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan Tusina Baraseger.

Apa itu Tusina Baraseger? Tusina Baraseger adalah singkatan dari Tungku Siklon Sederhana Batu Bara dan Sumber Energi Terbarukan. Ini berdasarkan data dan informasi dari laman resmi Kementerian ESDM.

Teknologi Tusina Baraseger diklaim hemat energi. Saat ini energi yang dihasilkan Tusina Baraseger mendapat tanggapan positif dari beberapa sektor industri.

Sebanyak 30 IKM terkesima dan siap mengaplikasikan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas bagi industrinya. "Kita sudah kerjasama dengan lebih dari 30 IKM," jelas salah satu inovator Tusina Baraseger, M. Ade Adriansyah Efendi.

Sistem kerja Tusina Baraseger tergolong sederhana. Bahan bakarnya cukup di tuang di Hopper atau bejana penampungan. Kemudian dihembuskan oleh blower ke tungku.

Bahan bakarnya juga relatif murah dan mudah, lantaran mengombinasikan batu bara dan biomassa yang ada di sektar IKM. Seperti serbuk gergaji, sekam padi, serasah (sampah-sampah organik berupa tumpukan dedaunan/ranting kering serta sisa vegetasi lain), dan sebagainya. Sehingga menurunkan biaya produksi.

"Kelebihan utamanya adalah kita bisa menggunakan potensi biomassa yang ada. Selain itu, efisiensi yang dihasilkan cukup tinggi, karena dinding Quartz (kwarsa) menyimpan panas. Jadi, energi panas yang hilang (Heat Loss) pun kecil," imbuh Ade.

Keberadaan Tusina Baraseger setidaknya meminimalisasi tingginya ketergantungan penggunaan energi fosil dalam proses pembakaran produksi di IKM.

"Hadirnya teknologi ini menjawab kebijakan sektor ESDM mengurangi ketergantungan terhadap minyak. Apalagi IKM masih banyak menggunakan Bahan Bakar Minyak," kata F.X. Sutijastoto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM.

Tusiana Baraseger dikembangkan sejak 2013 oleh tim peneliti tekMIRA, dan hak patennya telah didaftarkan dengan nama Pembakar Siklon Tanpa Perak nomor P00201709143.

Inovasi kreatif Tusina Baraseger selain digunakan sebagai tungku pembakar, juga mulai dilirik para pelaku industri pembangkit sebagai pembangkit listrik.

Menurut Ade, teknologi Tusina gunakan pembakaran sempurna. Sehingga hasilkan energi yang tinggi. Dengan jumlah bahan bakar yang sama dengan tungku konvensional, Tusina menghasilkan proses pembakaran lebih efektif dan ruang lebih kecil.

Ade mengungkapkan, tekMIRA telah melakukan pengembangan tungku siklon ini sejak lama, diawali penelitian skala menengah, lalu dikembangkan lagi, menggabungkan pembakaran antara batu bara dengan biomassa.

"Tungku siklon terus dikembangkan tekMIRA sampai ke kami, dengan beberapa penyempurnaan yang kami lakukan. Sekarang penelitiannya adalah bagaimana tungku siklon menjadi tungku pembangkit listrik skala kecil di bawah 10 MW," ungkapnya.

Untuk mengembangkan tungku Tusina menjadi pembangkit, tekMIRA telah melakukan kerjasama dengan PT Aalborg Industri Indonesia sejak awal Juli 2017. Dan saat ini prototype-nya sudah ada di PT Aalborg.

"Kami rancang ulang pembakaran boiler ini dengan sistem siklon, dan sudah berhasil menjadi tungku untuk pembangkit listrik, hasil pengembangan tungku ini sudah kami daftarkan patennya," jelas Ade.

Jika pembangkit listrik biasa, lokasi pembakarannya ada di boiler, dalam pengembangan, pembakarannya terpisah, ada di tungku siklon dan yang masuk ke boiler itu hanya berupa flue gas (gas panas).

Biasanya jika memakai tungku konvensional, panas terserap di tungku atau ke boilersekitar 30-40%. Jika menggunakan tungku inovasi ini, efisiensi yang dihasilkan mencapai 90%. "Tungku siklon sangat efektif sekali," tegasnya.

Kolaborasi antara tekMIRA dengan PT Aalborg Industri Indonesia saat ini sudah menghasilkan sejumlah pesanan tungku siklon, untuk pembangkit listrik berbasis biomassa di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Foto     : Istimewa

KOMENTAR
Rating
Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Terkini
Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Borong Tiga Medali ...
23/04/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Hadir di Sidang ASGP, Sekjen DPR RI Pamer Inovasi ...
22/04/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Kemenhub dan ITS Proyeksikan 200 Kapal Terbuat dar ...
18/04/2019 :: Jawa Timur - Kota Surabaya
Kabupaten Sinjai Sabet Penghargaan Daerah Inovasi ...
16/04/2019 :: Sulawesi Selatan - Kab Sinjai
Inovasi Kementerian PANRB Dapat Pujian Peserta Sid ...
15/04/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat