BiRD : Alat Bantu Pernafasan Alternatif yang Murah Meriah

12 Feb 2019

Indonesiaberinovasi.com, ULIN - Untuk menekan angka kematian bayi akibat gangguan pernapasan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Kalimantan Selatan, membuat Continous Positive Airway Pressure - Babies Respiratory Distress Recovery Device (CPAP- BiRD).

Yakni alat bantu pernafasan alternatif yang keberadaannya masih sangat minim. Alat ini berfungsi mempertahankan tekanan positif pada saluran nafas bayi, selama masih terdapat pernafasan spontan.

Dengan adanya BiRD, bayi yang mengalami gawat nafas dapat tertolong dan dapat bernafas dengan normal. Sejak digunakannya BiRD di RSUD Ulin, angka kematian bayi dapat diminimalisasi, dari 15 persen pada 2008 menjadi 9 persen pada tahun 2014. 

CPAP BiRD yang masuk Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018 ini diharapkan dapat diimplementasikan lebih luas di seluruh unit pelayanan kesehatan lain. Saat ini, alat ini sudah dipakai di beberapa RSUD Martapura, RS Tanjung, RS Amuntai dan RS Pelaihari.

CPAP BiRD dapat menghasilkan PEEP (Positive End-Expiratory Pressure), yakni suatu tekanan positif jalan napas pada tingkatan tertentu selama fase ekspirasi. 

PEEP sendiri kiranya berguna untuk meredistribusi cairan ekstravaskular paru, meningkatkan volume alveolus, dan dapat mengembangkan alveoli yang kolaps.

Asisten I Sekda Kalimantan Selatan, Siswansyah, menjelaskan, lahirnya inovasi ini dilatarbelakangi banyaknya angka kematian bayi. Dimana memang penyebab kematian bayi yang baru lahir di Indonesia terjadi karena banyak faktor.

Antara lain infeksi, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan Gawat Nafas. "Di RSUD Ulin Kalimantan Selatan, kematian bayi akibat gangguan pernafasan sebanyak 15 persen di tahun 2008," ujarnya.

Dikatakannya, bayi-bayi yang lahir dengan gangguan pernafasan ini memerlukan alat bantu pernafasan, yakni CPAP. Namun alat tersebut jumlahnya sangat terbatas di Kalimantan Selatan.

Ini terjadi lantaran harga alat tersebut yang sangat mahal, yakni Rp91 juta hingga Rp150 juta per unit. Sehingga penggunaan BiRD memiliki berbagai kelebihan.

Di samping BiRD lebih efisien, pembuatannya juga mudah, bisa dilakukan sendiri, dan ekonomis karena harganya jauh lebih murah dibandingkan alat CPAP. 

"Pembuatan CPAP-BiRD hanya sekitar RP280 ribu. Dengan rician pembelian Venturi Rp200 ribu, sirkuit selang oksigen Rp50 ribu, tempat air (toples) dan peralatan pelengkap lain Rp30 ribu," ujar Suciati, Direktur RSUD Ulin, didampingi inovator, Ari Yunanto.

Menurutnya, untuk mempertahankan dan menjadikan metode ini sebagai suatu standar yang berkelanjutan, telah dibuat suatu regulasi berupa prosedur penatalaksanaan tetap, yang dijadikan dasar pelaksanaan yang sah di RSUD Ulin.

"Penggunaan CPAP-BiRD telah disahkan menjadi suatu Standar Prosedur Operasional (SPO) di Ruang Rawat Intensif Neonatal RSUD Ulin, Kalimantan Selatan," ungkapnya.

Ditambahkan, pihaknya juga telah mensosialisasi seluruh dokter ahli dan staf tenaga medis di lingkup Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin.

Serta sejumlah rumah sakit lain di Kalimantan Selatan, mengenai penggunaan CPAP-BiRD ini. Hal tersebut dilakukan agar terjadi replikasi terhadap inovasi tersebut. 

Foto : Ilustrasi / Istimewa

KOMENTAR
Rating
Kalimantan Selatan - Kota Banjar Baru
Terkini
Inilah Cara Pemerintah Dorong Inovasi Pembiayaan I ...
21/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Pengurangan Plastik, Bagaimana Indonesia?
12/03/2019 :: Dki Jakarta - Kab Kepulauan Seribu
Inovasi Pembiayaan Infrastruktur Daerah
11/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Menuju Industri 4.0 Pemerintah Petakan Lima Sektor ...
28/02/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Energi Terbarukan dari Kabupaten Muba
27/02/2019 :: Sumatera Selatan - Kab Musi Banyuasin