Aruna, Aplikasi untuk Bantu Nelayan Indonesia Ekspor Komoditas Laut

13 Feb 2019

Indonesiaberinovasi.com, BERAU - Sosok Darhan terlihat bersemangat mendorong kapal barunya, menjauhi garis pantai di Tanjung Batu, Berau, Kalimantan Barat.

"Akhirnya impian saya terwujud, memiliki kapal yang lebih besar. Sekarang saya bisa tetap melaut, meski gelombang agak besar," kata nelayan kepiting dan rajungan ini.

Kapal baru yang ia gunakan untuk mencari ikan, ia beli setelah pendapatannya naik hingga tiga kali lipat. Hasil laut tangkapannya dijual melalui aplikasi Android yang diciptakan tiga anak muda.

Melalui aplikasi yang dinamakan Aruna, nelayan yang menjual komoditas laut dapat mengetahui harga jual, disesuaikan dengan harga yang ada di pasaran.

"Pengepul yang lain itu kadang mempermainkan kita dalam hal harga. Tapi setelah ada Aruna, tak seenaknya mereka permainkan kita. Karena Aruna terbuka pada kita, berapa harga dari pembeli, dan berapa harga pengepul," kata pria yang akrab dipanggil Awal ini.

Semua komoditas laut yang dijual lewat aplikasi ini, dipasarkan melalui online atau perdagangan daring, untuk pasar internasional ataupun pasar dalam negeri.

Salah seorang pendiri sekaligus Direktur Umum Aruna, Utari Octavianty menyatakan, sengaja memilih pemasaran melalui internet untuk membuka peluang pasar yang lebih luas.

"Ini bermula dari perdagangan daring yang kami buat. Memancing orang yang bukan hanya di Indonesia, tapi juga dari luar Indonesia. Mereka mencari kata 'fish' atau 'beli ikan', langsung terhubung ke gerai daring kami, dari situ mereka sadar penjualan ikan di Indonesia sudah online," terang Utari.

Aruna mengatakan telah memasarkan komoditas laut Indonesia, termasuk kepiting dan rajungan yang ditangkap Darhan di Berau, hingga ke pasar Amerika Serikat, Singapura dan Cina.

Salah satu konsumen dari Amerika Serikat adalah distributor untuk supermarket Walmart. Sementara konsumen kepiting bakau di Cina, mayoritas berasal dari pemilik restoran.

Pendapatan dari seluruh transaksi melalui aplikasi ini rata-rata bisa mencapai Rp690 miliar setiap bulannya. Mayoritas berasal dari transaksi ekspor, yakni 95%.

Dengan sistem penjualan melalui aplikasi ini, nelayan juga bisa mendapat penghasilan tambahan, dari kupon 'hadiah' saat menjual hasil tangkapan mereka.

Setiap penjualan hasil tangkapan 10 kilogram, nelayan mendapat satu kupon setara Rp20.000, yang mereka dapat tukar dengan kebutuhan pokok.

"Kupon bisa ditukar jadi uang, sembako, atau bisa juga ditukar dengan alat tangkap, seperti jaring. Jadi uang pribadi di rumah tak terpakai untuk beli jaring, karena bisa pakai uang dari kupon. Keuntungan adanya kupon ini besar sekali bagi saya," katanya.

Pemberian kupon juga membuat nelayan yang cukup rajin seperti Darhan, makin produktif. Dia pernah mendapat penghargaan karena hasil tangkapannya bisa mencapai 731kg dalam tiga bulan.

Pembeli yang ingin mencari ikan bisa melihat beberapa produk melalui portal mereka termasuk pembeli internasional. "Konsumen internasional biasanya lebih suka proses transaksi yang keamanan datanya terjamin, makanya fokus Aruna di security data. Tapi kami pastikan produk dari nelayan aruna tetap bisa dipasarkan," ucapnya.

Konsumen yang sudah memesan komoditas laut dari Aruna, akan diberi akses khusus memantau proses transaksi melalui aplikasi Nelayan E-commerce.

"Ada dua aplikasi yang dikembangkan Aruna, pertama adalah Nelayan Aruna yang dipakai nelayan, dan aplikasi Nelayan E-Commerce yang dipakai oleh konsumen untuk melacak status transaksi," kata Utari.

Saat ini terdapat sekitar 2.100 nelayan yang merasakan manfaat aplikasi ini, termasuk di Berau, Papua dan Sumatra. Tapi mayoritas dari mereka belum bisa memakai sendiri aplikasi di telepon pintar atau gawai lainnya.

"Kita mau gimana? karena enggak punya ponsel yang bagus, ponsel kita itu ponsel titut-titut. Ponsel yang ada senternya yang murah, yang kecil itu," kata Darhan sambil menunjukkan ponsel miliknya.

Darhan tahu betul, aplikasi Aruna bisa membantu dan menambah penghasilannya, tapi memakai aplikasi di telepon pintar, berlayar sentuh, lengkap dengan kata sandi dan password, masih terlalu rumit baginya.

"Kita belum tahu apa itu namanya aplikasi, bagaimana menggunakannya. Itu bikin kita pusing. Kami orang biasa, bukan lulusan apa-apa. Dulu pernah dikasih tau cara pakainya, tapi pagi dikasih tahu, malam sudah lupa," kata Darhan terkekeh.

Karena itu Aruna mengajak para pemuda lain ikut membantu nelayan yang masih kesulitan memakai aplikasi. Paprada Ariyana salah satunya, direkrut menjadi Manajer Area, untuk membantu nelayan di Berau memanfaatkan aplikasi.

Ia bertugas memasukkan semua data hasil tangkapan yang disetor nelayan ke Aruna. "Saya bikinkan mereka (nelayan) username, jadi setiap nelayan yang menimbang hasil tangkapan, saya masukkan datanya ke aplikasi sesuai namanya," katanya.

Hingga akhir tahun 2018, Aruna sudah memasarkan 86 jenis komoditi laut, termasuk kepiting, udang, dan beragam ikan. Utari menyatakan, Aruna berencana membuat sistem yang lebih sederhana untuk nelayan, berbasis sms.

"Kami sedang siapkan satu teknologi, aplikasi ini akan menyebarkan pesan secara otomatis dalam bentuk sms ke nelayan. Karena ponsel mereka mayoritas hanya bisa dipakai untuk sms. Jadi setiap hari akan ada sms yang dikirim ke nelayan, berisi nama nelayan, jumlah poinnya, dan harga ikan yang diterimanya."

Utari dan dua rekannya dari Universitas Telkom di Bandung, mendirikan Aruna pada tahun 2016. "Saya lahir dan besar di lingkungan pesisir, saya selalu malu dengan tempat saya tinggal, karena kehidupan nelayan tak pernah sejahtera. Ada kegusaran dalam diri, kenapa industri ini tak tersentuh dengan baik, padahal potensinya besar sekali," kata Utari.

"Tapi kami tak mau memaksakan teknologi pada nelayan, yang lebih kami inginkan adalah mencari cara agar teknologi bisa membantu dan meningkatkan kehidupan nelayan," tambah Utari.

Impian Utari merancang pola pemasaran untuk membantu nelayan berbasis aplikasi, makin terbuka lebar, saat Aruna mendapat investor pada 2017. Aktifitas usaha yang semula berpusat di Bandung, berpindah ke Jakarta.

Aplikasi untuk nelayan ini sudah dipakai di 15 kota dan kabupaten, seperti Aceh, Pasaman Barat, Balikpapan, Berau, Sebatik, Lombok Timur, Kendari dan Sorong.

Aplikasi Aruna sudah membantu ribuan nelayan, tapi masih ada ratusan ribu nelayan lainnya yang belum tersentuh bantuan teknologi informasi.

Foto : Istimewa

 

KOMENTAR
Rating
Kalimantan Barat - Kota Pontianak
Terkini
Inilah Cara Pemerintah Dorong Inovasi Pembiayaan I ...
21/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Pengurangan Plastik, Bagaimana Indonesia?
12/03/2019 :: Dki Jakarta - Kab Kepulauan Seribu
Inovasi Pembiayaan Infrastruktur Daerah
11/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Menuju Industri 4.0 Pemerintah Petakan Lima Sektor ...
28/02/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Energi Terbarukan dari Kabupaten Muba
27/02/2019 :: Sumatera Selatan - Kab Musi Banyuasin