Si Terpa Daya Jiwa Solusi Bagi Penderita Gangguan Jiwa

17 Feb 2019

Indonesiaberinovasi.com, KLATEN - Kerapkali permasalahan muncul dari kekambuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), salah satunya adalah ketidakmampuan ODGJ berproduktivitas atau berhentinya kemampuan berproduktivitas. 

ODGJ yang menjadi pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr. RM. Soedjarwadi, terutama pasien rawat inap, cenderung dikucilkan dan tidak diterima masyarakat, bahkan oleh keluarga sendiri. 

Saat Pasien sudah dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), keluarga dan masyarakat pun enggan menjemputnya. ODGJ dianggap beban secara ekonomi, psikologis dan sosial di keluarga.

Selama ini pelayanan kesehatan bagi ODGJ hanya berfokus pada pasien saat di Rumah Sakit (RS). Setelah pasien diperbolehkan pulang pasca rawat inap, RS tidak memantau pasien selama di rumah. 

Akibatnya, beberapa hari di rumah, keluarga sudah mengantar pasien kembali ke RS. Selain itu sebagian pasien tidak datang untuk kontrol rawat jalan, akhirnya beberapa minggu kemudian masuk kembali diopname karena kekambuhan. 

Sehingga tahun 2017 diperoleh, 30 persen rawat inap jiwa di RS merupakan pasien readmisi, lebih dari 2 (dua) kali pertahun. Menanggulangi masalah tadi, RSJD Dr. RM. Soedjarwadi membangun Sistem Terapi Paripurna Melalui Pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa (Si Terpa Daya Jiwa).

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat wawancara dan presentasi Top Inovasi Pelayanan Publik 2018 di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Inovasi ini dikatakan Ganjar merupakan sistem terapi rehabilitasi paripurna. Dimulai saat pasien masuk ke rumah sakit, Opname, pulang dan kesinambungan pemantauan selama di rumah.

Dijelaskannya, inovasi Si Terpa Daya Jiwa dilakukan dengan cara pasien rawat inap atau rawat jalan (Day Care) dikirim DPJP untuk mendapatkan terapi rehabilitasi Psikososial.

Kemudian dilakukan Assesment oleh Psikiater, Psikolog, Perawat, Pekerja Sosial dan okupasi Terapist, untuk menetukan terapi sesuai bakat dan minat si pasien. 

Selanjutnya pengukuran tingkat produktivitas yang dilakukan, sebelum masuk maupun setelah selesai sesi terapi. Sebagai evaluasi, menggunakan kuisener COTE (Comprehensive Occupational Therapy Evaluation).

Langkah selanjutnya terapi kerja, oleh pendamping Rehabilitan berdasarkan bakat minat ODGJ, sesuai modul terapi. Sehingga ODGJ mampu menghasilkan sebuah produk, dan melakukan kunjungan rumah (Home Visit).

Hal ini dilakukan dalam upaya pendampingan / mentoring ODGJ dan keluarganya. Serta meningkatkan kerjasama ke Pemerintah Desa (Pemda), Kecamatan dan Puskesmas.

Inovasi yang masuk Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018 ini memberikan hasil memuaskan, dalam peningkatan kesehatan fisik dan mental, serta meningkatkan kemampuan ODGJ dalam kemandirian. 

Kemampuan ODGJ dalam berproduksi di rumah, memberi dampak positif dalam memupuk rasa percaya diri mereka. Sehingga ODGJ bisa kembali ke lingkungan dan meningkatkan kemampuan ekonomi, pada akhirnya menurunkan kekambuhan. 

Manfaat dari inovasi Si Terpa Daya Jiwa dapat dilihat dari 28 ODGJ yang mengikuti Si Terpa Daya Jiwa. Dari tahun 2017 sampai Juni 2018, hanya 1 (satu) ODGJ rawat inap kembali ke RS.  

Dari 28 ODGJ di tahun 2017, sebanyak 5 (lima) orang mampu membuat pojok produksi di rumahnya. Tahun 2018 bertambah menjadi 7 (tujuh) ODGJ yang mampu membuat pojok produksi. 

Adapun 2 (dua) diantara ODGJ yang memiliki keterampilan dari proses terapi ini, juga mampu mengajarkan ketrampilannya kepada keluarga/teman dekatnya. 

Produk yang dihasilkan ODGJ di tempat tinggalnya, melalui pojok produksi, berupa batik tulis, lampu hias, gantungan baju, gantungan kunci, sprei, beraneka kripik dan sebagainya.

“Pelaksanaan Si Terpa Daya Jiwa libatkan SDM Psikiater, Psikolog, Tenaga Perawat, okupasi terapi, Pekerja Sosial dan pendamping ketrampilan Rehabilitan. Melalui unit Biologis Instalasi Rehabilitasi Psikososial dan Instalasi Kesehatan Jiwa Masyarakat (Keswamas) di RS,” ujar Ganjar.

Menurutnya, inovasi Si Terpa Daya jiwa memberi keberhasilan perawatan ODGJ di RSJD Dr. RM. Soedjarwadi yang tidak hanya menghilangkan gejala (pulih dari sakit), tetapi juga kembalinya ODGJ untuk berdaya guna dan produktif.

Yakni ODGJ mendapat stimulan membuat  'Pojok Produksi' di tempat tinggalnya. Modal usaha stimulan ini selain sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) RS, juga libatkan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) RSJD DR. RM. Soedjarwadi dan program Gerakan Lima Ribu (Gelibu) Rumah Sakit.

Mengenai hasil produksi ODGJ tersebut, dipasarkan melalui Galeri Hasil Karya Rehabilitan RSJD DR. RM. Soedjarwadi, baik secara langsung maupun online. 

Sementara hasil produksi ODGJ, berupa produk merchandise maupun makanan, mempunyai nilai jual yang cukup baik. Sehingga ODGJ mampu menghasilkan uang dari hasil penjualan produknya. 

Hasil karya ODGJ juga beberapa kali dipesan mahasiswa mancanegara, yang pernah melakukan kunjungan di RSJD Dr. RM. Soedjarwadi, untuk dijual kembali di negaranya. Salah satunya adalah mahasiswa dari negara Filipina. 

Foto : Istimewa

KOMENTAR
Rating
Jawa Tengah - Kab Klaten
Terkini
Inilah Cara Pemerintah Dorong Inovasi Pembiayaan I ...
21/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Pengurangan Plastik, Bagaimana Indonesia?
12/03/2019 :: Dki Jakarta - Kab Kepulauan Seribu
Inovasi Pembiayaan Infrastruktur Daerah
11/03/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Menuju Industri 4.0 Pemerintah Petakan Lima Sektor ...
28/02/2019 :: Dki Jakarta - Kota Jakarta Pusat
Inovasi Energi Terbarukan dari Kabupaten Muba
27/02/2019 :: Sumatera Selatan - Kab Musi Banyuasin