Inovasi Andi Soetomo; Rumah Jabatan Terbuka 24 Jam

22 June 2015 | Sulawesi Selatan



Soppeng - Selama menjabat, Andi Soetomo, bupati Soppeng, membuka ruang interaksi bagi warganya untuk datang dan menemuinya di rumah jabatan. Terutama bila ada warga yang mempunyai masalah. Baik masalah pribadi maupun urusan dinas.

’’Orang yang datang ke rujab pasti ada masalahnya. Jadi, rujab terbuka 24 jam untuk mendengar keluhan warga,’’ kata Andi Soetomo di kantor bupati baru-baru ini.

Dari segi pekerjaan, dia tipe pekerja ulet. Tidak boleh ada berkas yang terhambat. Dia pun terkadang menandatangani berkas di tempat mana pun. Kebiasaan itu dia tularkan kepada pejabat di lingkungan Pemkab Soppeng. ’’Pak bupati tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Tak boleh ada berkas yang menumpuk di meja. Jika tidak selesai di kantor, pekerjaan dilanjutkan di rujab,’’ ujar staf bupati, Asni.

Pemerintah Kabupaten Soppeng berkomitmen memberikan pelayanan prima dalam pelayanan publik, khususnya masalah perizinan di daerah. Jika sebelumnya perizinan mencapai 55 jenis, kini diciutkan menjadi 19 jenis melalui kantor pelayanan terpadu (KPT).

Pihak KPT ditekankan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang mengurus perizinan. Pelayanan sesuai standard operating procedure (SOP). Dengan adanya SOP, diharapkan proses penerbitan perizinan berjalan transparan, cepat, dan pasti.

’’Soppeng menyederhanakan perizinan di daerah. Jika sebelumnya terdiri atas 55 jenis, kini diciutkan menjadi 19 jenis. Dengan penyederhanaan ini, perizinan tidak lagi berbelit-belit,’’ tambah Soetomo.

Bahkan, sebagian perizinan sudah digratiskan. Terkecuali izin mendirikan bangunan (IMB), HO, dan izin perikanan. Dia menjelaskan, dengan penyederhanaan perizinan, diharapkan pelaku usaha mendapat kemudahan dalam berinvestasi. Dengan begitu, bisa tercipta iklim investasi yang kondusif.

Dalam pengelolaan keuangan, Pemkab Soppeng berhasil menorehkan prestasi. Setelah sempat menyandang predikat disclaimer dari BPK pada 2013, pemkab terus bekerja maksimal melakukan pembenahan. Terutama masalah pengelolaan aset dan tunggakan piutang. Pada 2014, Soppeng meraih predikat wajar dengan pengecualian (WDP).

Torehan itu tidak membuat puas pemkab. Bupati menginstruksi jajarannya menindaklanjuti temuan-temuan BPK. Alhasil, pada 2015 ini, Soppeng berhasil meraih predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dengan paragraf pengecualian (DPP).

’’Untuk kali pertama, Soppeng berhasil meraih WTP. WTP ini merupakan kado terakhirku bagi masyarakat Soppeng. Semoga bupati selanjutnya bisa mempertahankannya,’’ ujar Soetomo.

Dari segi pembangunan, Pemkab Soppeng berusaha mengintegrasikan pembagian yang merata. Salah satunya, menerapkan penganggaran partisipatif. Ini diimplementasikan melalui Perbup Nomor 57/I/2015 tentang Pagu Indikatif Kewilayahan.

Dengan penganggaran partisipatif, diharapkan tercipta pembangunan yang adil. Hal itu dilakukan untuk menghindari adanya kesan daerah tertentu kurang tersentuh pembangunan.

’’Dengan adanya penganggaran partisipatif, usulan masyarakat bisa ditampung melalui musrenbang. Dan pembangunan lebih merata,’’ tambah Soetomo.

Soetomo menambahkan, untuk menciptakan pembangunan yang merata, diterapkan pagu indikatif kewilayahan. Dengan adanya pagu indikatif kewilayahan, setiap wilayah kecamatan  mendapatkan porsi anggaran di daerahnya. Dan, dana tersebut tidak bisa dialihkan ke kecamatan lain. Besaran pagu indikatif kewilayahan maksimal 20 persen belanja langsung APBD setelah dikurangi DAK dan belanja bersifat wajib. Pagu indikatif kewilayahan dikondisikan dengan kebutuhan masyarakat dan urusan wajib yang menjadi tanggung jawab SKPD.

’’Besaran pagu indikatif untuk setiap kecamatan berbeda. Bergantung nilai bobot kecamatan dikalikan total pagu indikatif yang disiapkan,’’ tambah Soetomo.

Menurut dia, dengan adanya pagu indikatif, partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik semakin meningkat. Dengan begitu, masyarakat lebih merasakan manfaat pembangunan.

Hobi Bercocok Tanam

Saat sebagian orang enggan menjadi petani, justru Andi Soetomo memelopori terciptanya potensi pertanian yang bisa diandalkan. Dia pun menyulap salah satu kawasan bukit tandus di Madello, Kecamatan Lalabata. Jaraknya sekitar 3 km arah utara Kota Watansoppeng. Sebagian orang menyebut kawasan tersebut bukit Asmo. Asmo merupakan akronim Andi Soetomo.

Lahan 10 hektare itu disulap menjadi areal pertanian yang subur. Kebun tersebut kini ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Misalnya, mangga, jabon, sukun, dan lengkeng. Ada pula pohon gaharu yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Soetomo menyiasati lahan itu. Sebelum ditanami, tanah untuk tanaman digali dengan menggunakan alat berat. Kemudian, lubang bekas galian itu diuruk kompos tanah dari Danau Tempe.

’’Bukit ini dulu gersang dan tidak bisa ditumbuhi tanaman. Berkat teknologi pertanian, tanahnya diganti dengan kompos Danau Tempe sehingga bisa ditumbuhi tanaman,’’ kata Soetomo.

Kepedulian dia terhadap penghijauan lingkungan tidak berhenti di bukit itu. Soetomo juga pernah merevitalisasi Sungai Cenrana, Kecamatan Ganra. Dulu rumah warga yang berada di daerah aliran sungai sering kebanjiran. Namun, setelah sungai itu dikeruk, kini rumah-warga itu jarang lagi terkena banjir.

Berkat kerja kerasnyamerevitalisasi Sungai Cenrana, dia pernah mendapat undangan salah satu NGO dari Norwegia. Buakan hanya itu. Soetomo juga menyulap lahan di belakang Kantor DPRD Soppeng menjadi areal perkantoran. Lahan tersebut dahulu tidak berbentuk. Namun, setelah ditimbun, lahan tersebut kini bisa ditempati.

 

Sumber: http://www.jawapos.com/

Foto: http://www.jawapos.com/

 

Tags : belum ada tag


Terkini
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Magic Grill, Inovasi Khas Magelang
30 April 2019 :: Jawa Tengah

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.