Inovasi Ashari Tambunan; Permudah PNS Urus Pangkat dan Gaji

23 June 2015 | Sumatera Utara



Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan berpose dengan mobil Simola di halaman rumah dinas bupati di Lubuk Pakam. Simola membantu PNS mengurus administrasi kepegawaian.

 

Deli Serdang - Wilayah Kabupaten Deli Serdang begitu luas. Masih banyak daerah yang terpencil dan sulit dijangkau. Para PNS yang tinggal di wilayah kecamatan yang jauh kesulitan untuk mengurus administrasi kepegawaian. Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan pun menerapkan strategi jemput bola untuk mengatasi persoalan tersebut.

Para PNS di Deli Serdang kini lebih mudah untuk mengurus berbagai hal terkait dengan administrasi kepegawaian. Dulu, untuk mengurus kenaikan pangkat, kenaikan gaji, izin belajar, atau keperluan administrasi lainnya, mereka harus datang ke kantor badan kepegawaian daerah (BKD) di Lubuk Pakam, ibu kota Deli Serdang. Bagi yang wilayah kerjanya tidak jauh dari kota, itu tentu bukan masalah. Tetapi, para PNS di Kecamatan Gunung Meriah, Sibolangit, Kutalimbaru, STM Hulu, dan Bangun Purba butuh perjuangan panjang untuk sekadar memasukkan beras ke BKD.

PNS di Kecamatan Sibolangit, misalnya, harus menempuh perjalanan 65 km untuk menuju Lubuk Pakam. Itu pun harus melalui Kota Medan agar lebih cepat. Paling tidak dibutuhkan 4–5 jam perjalanan pergi pulang. Hal tersebut kadang-kadang memunculkan adanya pungutan liar bagi PNS yang mengurus administrasi kepegawaian.

Yang mengenaskan, banyak pegawai yang sudah waktunya naik pangkat yang tidak bisa mendapat haknya karena tidak bisa mengurus ke BKD. Karir beberapa pegawai di daerah terpencil bisa kalah cepat bila dibandingkan dengan yang bekerja di kota.

Sering mendapat keluhan dari pegawainya, Bupati Ashari Tambunan pun membuat inovasi dengan meluncurkan Simola. Yakni, Sistem Mobil Operasional Layanan. Sebuah mobil L-300 dengan nopol BK 830 M disulap menjadi kantor berjalan. Pegawai BKD setiap hari berkeliling dari kecamatan ke kecamatan dengan menggunakan mobil tersebut. ”Ada jadwalnya. Jadwal itu sudah diinformasikan ke seluruh kecamatan,” kata Ashari.

Simola resmi beroperasi pada Juni 2014. Saat ini, kata Ashari, banyak PNS yang memanfaatkannya untuk pelayanan kenaikan pangkat, kenaikan berkala, surat pernyataan masih menduduki jabatan (SPMJ), dan pensiun. ”Ini merupakan salah satu program untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Karena kalau pegawai sudah nyaman, tentu kerjanya akan lebih maksimal dalam melayani masyarakat,” kata mantan ketua PW NU Sumatera Utara itu.

Ashari bermaksud menambah lagi satu unit mobil Simola. Ke depan, Simola tidak hanya melayani administrasi kepegawaian, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat seperti urusan kependudukan dan perizinan.

Selain Simola, ada sejumlah program andalan Ashari. Salah satunya, pembangunan infrastruktur jalan swadaya masyarakat. Bupati yang dilantik pada 14 April 2014 itu menerapkan konsep kemitraan dengan masyarakat dalam membangun jalan. Konsepnya, 60 persen biaya APBD dan 40 persen masyarakat dan CSR perusahaan. Setidaknya sudah ada 1.600 km jalan aspal yang sudah dibangun dengan konsep tersebut.

Dengan wilayah yang luas, kebutuhan infrastruktur jalan di kabupaten yang berulang tahun setiap 1 Juli itu sangat besar. Pemkab menggandeng masyarakat dan perusahaan. Misalnya, dana milik pemkab hanya bisa untuk membangun jalan sepanjang 2 km dengan lebar 5 meter, dengan konsep itu, jalan bisa direalisasikan menjadi 5 km dan lebar 8 meter. Masyarakat yang membangun dibantu peralatan dari pemkab. ”Ini sebenarnya program bupati sebelumnya yang saya teruskan,” kata Ashari. Yang berat, kata Ashari, adalah memelihara jalan tersebut. Sebagai gerbang utama menuju Medan, Deli Serdang dilewati banyak truk besar sehingga jalan sering rusak.

Selain itu, Ashari memiliki program bedah rumah. Bahkan, dia mencanangkan target 1.000 rumah per tahun. Tahun pertama, memang baru 50 persen yang tercapai. Namun, Ashari bertekad menebusnya di tahun selanjutnya.

Bedah rumah itu dilakukan untuk rumah warga yang tidak layak huni. Mekanismenya, warga melalui lurah atau kepala desa mengusulkan kepada bupati. Kemudian, tim bentukan bupati melakukan verifikasi ke rumah-rumah yang diusulkan tersebut. Pemkab menyediakan anggaran Rp 15 juta per rumah. ”Warga yang membangun secara bergotong royong,” kata Ashari. Selain itu, pemkab menguruskan IMB maupun sertifikat rumah dan tanah.

Bandara Kualanamu Bukan di Medan

Nasib Deli Serdang mungkin seperti Tangerang dan Sidoarjo. Meski Bandara Soekarno-Hatta berada di Tangerang, orang tetap menyebutnya di Jakarta.

Bandara Juanda juga terletak di Sidoarjo, namun lebih dikenal di Surabaya. Begitu juga Bandara Kualanamu yang sebenarnya berada di Deli Serdang. Tetapi, publik mengira bandara itu berlokasi di Medan.

Namun, Tangerang dan Sidoarjo lebih mujur karena kadang-kadang masih disebut pramugari ketika memberikan pengumuman sesaat sebelumlanding. Tetapi, Deli Serdang nyaris tidak pernah disebut. Semua menyebut Bandara Kualanamu, Medan.

Pemkab Deli Serdang sebenarnya sudah meminta pengelola bandara maupun maskapai penerbangan menyebutkan wilayah yang sebenarnya. ’’Harapan kami, orang tahu bahwa bandara itu berada di Deli Serdang,’’ kata Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan saat diwawancarai Jawa Posbulan lalu.

Sejatinya persoalannya bukan semata-mata pengakuan nama Deli Serdang. Namun, lebih dari itu, Ashari melihat kemanfaatan bandara tersebut bagi masyarakat Deli Serdang belum optimal. Sebab, akses ke bandara yang dibuka hanya yang mengarah ke Medan. Akibatnya, warga Deli Serdang yang akan menuju ke bandara harus ke Medan lebih dulu.

Padahal, kata Ashari, kalau akses belakang bandara dibuka dan kemudian dibangun infrastruktur jalan yang memadai, warga Deli Serdang lebih mudah ke bandara. Bahkan, bukan hanya warga Deli Serdang, warga dari sejumlah kabupaten/kota seperti Simalungun, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, dan sebagainya bakal lebih mudah menuju bandara. ’’Perekonomian Deli Serdang juga akan terangkat dengan dibukanya akses ke bandara itu,’’ tutur Ashari.

Selain itu, lanjut dia, beban jalan utama Deli Serdang–Medan tidak terlalu berat bila ada jalur alternatif. Banyak industri besar di Deli Serdang. Akses ke bandara maupun pelabuhan cuma satu. Akibatnya, kondisi jalan utama tersebut sering rusak lantaran bebannya terlalu besar.

Meski begitu, Ashari optimistis upaya itu membuahkan hasil pada kemudian hari. Dia menyadari usia Bandara Kualanamu masih sangat muda. Jadi, butuh waktu untuk pengembangan atau membuka akses baru.

 

Sumber: http://www.jawapos.com/

Foto: http://www.jawapos.com/

 

Tags : belum ada tag


Terkini
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Pustaka Digital Inovasi Literasi untuk Daerah 3T
07 May 2019 :: Kalimantan Utara
Magic Grill, Inovasi Khas Magelang
30 April 2019 :: Jawa Tengah

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.