Kerupuk Biji Karet, Panganan Renyah Inovasi Masyarakat Mesuji

18 October 2018 | Lampung



Indonesiaberinovasi.com, LAMPUNG - Mesuji, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Lampung sejauh ini dikenal memiliki potensi karet yang melimpah pada sebagian wilayahnya.

Tak ayal, banyak penduduknya bekerja sebagai petani karet. Adapun karet yang biasa diambil getahnya, memiliki biji yang jumlahnya cukup banyak. Sejauh ini biji karet hanya menjadi limbah yang tak termanfaatkan.

Namun, lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ini berhasil menciptakan panganan lezat bernilai ekonomis tinggi. Yakni dengan memanfaatkan bahan dasar biji karet.

Eka Priyanti, Zupika Audina, Carta Wijaya, Rizal Gata Kusuma, dan Sartika, kelimanya menciptakan kerupuk biji karet dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat di Desa Adi Luhur, Kecamatan Mesuji, Lampung.

Mengingat harga getah karet yang dari waktu ke waktu semakin menurun, petani karet membutuhkan ladang usaha lain untuk meningkatkan taraf hidup.

Adanya inovasi usaha kerupuk biji karet selain dapat meningkatkan tingkat ekonomi warga, juga dapat membentuk usaha mandiri rumah tangga yang akan menyerap tenaga kerja warga desa.

Masyarakat Desa Adi Luhur melalui Kelompok Wanita Tani (KWT)-nya mendapat pelatihan mengenai langkah pembuatan kerupuk yang enak dan layak jual. Tak sampai disitu, pelatihan pengemasan dan penyusunan strategi pemasaran juga dilakukan.

Awalnya, KWT diberikan investasi mesin segel kemasan, plastik kemasan, label, timbangan, alat pemotong kerupuk, dan bahan baku penunjang, sebagai modal awal produksi.

Hingga saat ini kerupuk biji karet Mesuji sudah tersedia dalam berbagai varian rasa, dengan harga Rp 10.000 per kemasan 150 gram. Bahkan sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di Desa Adi Luhur yaitu KWT Mawar dan Melati.

“Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini sudah menciptakan industri rumahan berkelanjutan, mencapai 80% dari target yang dicanangkan,” kata Eka. Kerupuk biji karet ini telah dipasarkan di pameran, warung, serta toko di lingkungan Mesuji.

Dukungan pun terus mengalir dari berbagai pihak. Antara lain Kepala Desa Adi Luhur, Dinas Koperindag, serta pihak-pihak pemerintah dari Kabupaten Mesuji.

Bupati Mesuji juga mendukung produk ini. Ia pun berharap nantinya kerupuk biji karet ini dapat menjadi oleh-oleh panganan khas dari Kabupaten Mesuji.

Foto : Istimewa

Tags : #Biji karet #kerupuk biji karet #panganan renyah mesuji #inovasi kerupuk biji karet

Kerupuk Biji Karet, Panganan Renyah Inovasi Masyarakat Mesuji

18 October 2018 | Lampung



Indonesiaberinovasi.com, LAMPUNG - Mesuji, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Lampung sejauh ini dikenal memiliki potensi karet yang melimpah pada sebagian wilayahnya.

Tak ayal, banyak penduduknya bekerja sebagai petani karet. Adapun karet yang biasa diambil getahnya, memiliki biji yang jumlahnya cukup banyak. Sejauh ini biji karet hanya menjadi limbah yang tak termanfaatkan.

Namun, lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ini berhasil menciptakan panganan lezat bernilai ekonomis tinggi. Yakni dengan memanfaatkan bahan dasar biji karet.

Eka Priyanti, Zupika Audina, Carta Wijaya, Rizal Gata Kusuma, dan Sartika, kelimanya menciptakan kerupuk biji karet dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat di Desa Adi Luhur, Kecamatan Mesuji, Lampung.

Mengingat harga getah karet yang dari waktu ke waktu semakin menurun, petani karet membutuhkan ladang usaha lain untuk meningkatkan taraf hidup.

Adanya inovasi usaha kerupuk biji karet selain dapat meningkatkan tingkat ekonomi warga, juga dapat membentuk usaha mandiri rumah tangga yang akan menyerap tenaga kerja warga desa.

Masyarakat Desa Adi Luhur melalui Kelompok Wanita Tani (KWT)-nya mendapat pelatihan mengenai langkah pembuatan kerupuk yang enak dan layak jual. Tak sampai disitu, pelatihan pengemasan dan penyusunan strategi pemasaran juga dilakukan.

Awalnya, KWT diberikan investasi mesin segel kemasan, plastik kemasan, label, timbangan, alat pemotong kerupuk, dan bahan baku penunjang, sebagai modal awal produksi.

Hingga saat ini kerupuk biji karet Mesuji sudah tersedia dalam berbagai varian rasa, dengan harga Rp 10.000 per kemasan 150 gram. Bahkan sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di Desa Adi Luhur yaitu KWT Mawar dan Melati.

“Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini sudah menciptakan industri rumahan berkelanjutan, mencapai 80% dari target yang dicanangkan,” kata Eka. Kerupuk biji karet ini telah dipasarkan di pameran, warung, serta toko di lingkungan Mesuji.

Dukungan pun terus mengalir dari berbagai pihak. Antara lain Kepala Desa Adi Luhur, Dinas Koperindag, serta pihak-pihak pemerintah dari Kabupaten Mesuji.

Bupati Mesuji juga mendukung produk ini. Ia pun berharap nantinya kerupuk biji karet ini dapat menjadi oleh-oleh panganan khas dari Kabupaten Mesuji.

Foto : Istimewa

Tags : #Biji karet #kerupuk biji karet #panganan renyah mesuji #inovasi kerupuk biji karet

Kerupuk Biji Karet, Panganan Renyah Inovasi Masyarakat Mesuji

18 October 2018 | Lampung



Indonesiaberinovasi.com, LAMPUNG - Mesuji, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Lampung sejauh ini dikenal memiliki potensi karet yang melimpah pada sebagian wilayahnya.

Tak ayal, banyak penduduknya bekerja sebagai petani karet. Adapun karet yang biasa diambil getahnya, memiliki biji yang jumlahnya cukup banyak. Sejauh ini biji karet hanya menjadi limbah yang tak termanfaatkan.

Namun, lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ini berhasil menciptakan panganan lezat bernilai ekonomis tinggi. Yakni dengan memanfaatkan bahan dasar biji karet.

Eka Priyanti, Zupika Audina, Carta Wijaya, Rizal Gata Kusuma, dan Sartika, kelimanya menciptakan kerupuk biji karet dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat di Desa Adi Luhur, Kecamatan Mesuji, Lampung.

Mengingat harga getah karet yang dari waktu ke waktu semakin menurun, petani karet membutuhkan ladang usaha lain untuk meningkatkan taraf hidup.

Adanya inovasi usaha kerupuk biji karet selain dapat meningkatkan tingkat ekonomi warga, juga dapat membentuk usaha mandiri rumah tangga yang akan menyerap tenaga kerja warga desa.

Masyarakat Desa Adi Luhur melalui Kelompok Wanita Tani (KWT)-nya mendapat pelatihan mengenai langkah pembuatan kerupuk yang enak dan layak jual. Tak sampai disitu, pelatihan pengemasan dan penyusunan strategi pemasaran juga dilakukan.

Awalnya, KWT diberikan investasi mesin segel kemasan, plastik kemasan, label, timbangan, alat pemotong kerupuk, dan bahan baku penunjang, sebagai modal awal produksi.

Hingga saat ini kerupuk biji karet Mesuji sudah tersedia dalam berbagai varian rasa, dengan harga Rp 10.000 per kemasan 150 gram. Bahkan sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di Desa Adi Luhur yaitu KWT Mawar dan Melati.

“Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini sudah menciptakan industri rumahan berkelanjutan, mencapai 80% dari target yang dicanangkan,” kata Eka. Kerupuk biji karet ini telah dipasarkan di pameran, warung, serta toko di lingkungan Mesuji.

Dukungan pun terus mengalir dari berbagai pihak. Antara lain Kepala Desa Adi Luhur, Dinas Koperindag, serta pihak-pihak pemerintah dari Kabupaten Mesuji.

Bupati Mesuji juga mendukung produk ini. Ia pun berharap nantinya kerupuk biji karet ini dapat menjadi oleh-oleh panganan khas dari Kabupaten Mesuji.

Foto : Istimewa

Tags : #Biji karet #kerupuk biji karet #panganan renyah mesuji #inovasi kerupuk biji karet

ARTIKEL TERKAIT





KOMENTAR

Rating

Rating

Rating

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.