Nilai Strategis Pembangunan Pelabuhan Patimban

05 December 2018 | Jawa Barat



Penulis: Humbul Kristiawan

Direktur Eksekutif The Innovative Government Institute, Dosen dan saat ini Caleg DPR-RI/Pusat dari Dapil Subang-Majalengka-Sumedang

Indonesiberinovasi.com - Setelah Bandar Udara (Bandara) Kertajati atau Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka, Jawa Barat, Pemerintah Republik Indonesia pun mulai terfokus kepada aktivitas pembangunan Fase 1 Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat.

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) telah menandatangani kontrak proyek pembangunan Pelabuhan Patimban Fase 1 untuk paket 1, berupa konstruksi terminal senilai Rp6 triliun. 

Adapun pembangunan Fase 1 Pelabuhan Patimban, yang merupakan salah satu proyek strategis nasional, dan ditargetkan selesai pada 2027 mendatang ini, menelan biaya investasi sebesar Rp9 triliun.

Dimana diharapkan awal tahun 2019 sudah dilakukan Soft Opening. Proyek Patimban sendiri rencananya dibangun dalam dua fase, dengan total 10 paket pekerjaan.

Pembangunan Fase 1 akan segera dimulai, sedangkan Fase 2 rencananya akan dibangun pada tahun 2020. Setelah itu, pemerintah akan berusaha untuk melanjutkan penyelesaian pembangunan pelabuhan secara keseluruhan.

Pembangunan Fase 1 Paket 1 atau konstruksi terminal akan digarap konsorsium, yang terdiri dari Penta Ocean Construction Co Ltd, TOA Construction Corporation, Rinkai Construction Co Ltd, PT PP (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Terkait nilai kontrak Fase 1 Paket 1 yang sebesar Rp6 triliun memiliki durasi kontrak selama 12 bulan. Sementara nilai kontrak Fase 1 Paket 2 sebesar Rp1,8 triliun. Nilai kontrak Fase 1 Paket 3 sebesar Rp575 miliar, yang mana masih dalam tahap evaluasi. 

Perlu disadari, kehadiran Pelabuhan Patimban sangat berpeluang memberi dan membuka kesempatan kerja kepada lebih dari 1,5 juta orang.

Kelanjutannya, pemerintah sudah memantapkan rencana, untuk melaksanakan kesepakatan perdagangan bebas di Pelabuhan Bebas, dengan negara Afrika. Salah satu yang sedang dijajaki pemerintah saat ini adalah dengan negara Mozambique. 

Pelabuhan ini dapat membawa manfaat signifikan. Adanya Pelabuhan Patimban, sedikit banyak membuat industri otomotif kita di Karawang - Bekasi - Purwakarta bisa tersalurkan secara optimal.

Sesuai yang disampaikan Presiden Jokowi, kalau Pelabuhan Patimban merupakan gerbang kegiatan perdagangan. Dan akan berperan sebagai lalu lintas ekspor barang industri, salah satunya industri otomotif. Hal ini bertujuan untuk mendorong ekspor otomotif karena memiliki sebuah pelabuhan yang mengefisienkan biaya, sehingga bisa bersaing di negara-negara lain.

Ketika menyoroti industri otomotif, tenaga kerja di sektor ini tersebar pada berbagai lapangan kerja. Mulai dari industri perakitan, komponen lapis pertama, kedua dan ketiga, sampai dengan tenaga kerja ditingkat bengkel resmi, sales, service dan spare parts.

Jika semua upaya tersebut berhasil dan pembangunan bisa dituntaskan segera, maka Pelabuhan Patimban dapat memberi andil besar. Salah satunya untuk kegiatan bongkar muat barang, yang mana pada akhirnya keberadaan Pelabuhan Patimban bisa mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok. 

Pembangunan Pelabuhan Patimban yang terbagi atas tiga tahap, sejatinya juga dibuat dalam rangka mengefisienkan pengiriman logistik, dan mengurangi beban lalu lintas di Jakarta. Tak bisa dipungkiri, sentra industri yang ada sekarang ini masih bergerak ke Pelabuhan Tanjung Priok. Yang artinya selama ini masih menjadi beban traffic kota Jakarta.

Tanjung Priok juga tampaknya akan mendapat topangan dari Pelabuhan Banjarnegara. Dengan adanya tiga pelabuhan (Patimban, Tanjung Priok, dan Banjarnegara) bisa jadi biaya di pelabuhan akan turun. Karena ada sedikit persaingan positif di antara ketiganya.

Tidak hanya sentra industri sekitar Karawang-Cikarang-Bekasi saja yang mendapatkan keuntungan dari pembangunan Pelabuhan Patimbang. Daerah Subang, Majalengka dan Sumedang akan mendapatkan keuntungan.

Subang sebagai tempat pelabuhan Patimban akan dibangun akan memberikan multiplier effect pada beberapa sektor. Diantaranya kebutuhan akan hotel, restaurant, dan sektor pariwisata lainnya untuk mendukung industri pelabuhan.

Mengintegrasikan Pelabuhan Patimban dengan Bandara Kertajati akan meningkatkan pertumbuhan industri bagi Majalengka, karena para investor yang mendarat di Bandara Kertajati bisa langsung untuk kunjungan ke Pelabuhan Patimban atau urusan logistik lainnya.

Untuk Sumedang akan diuntungkan, karena adanya pembangunan tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) akan meningkatkan traffic lintasan badi Sumedang. Industri pendukung seperti restoran, tempat singgah, dan infrastruktur akan menyerap tenaga kerja secara besar, sehingga akan membantu penyerapan tenaga kerja dari Sumedang dan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran. 

Dilihat dari berbagai sisi pembangunan Pelabuhan Patimban, memberikan keuntungan lintas sektor dan lintas daerah. Keuntungan dari pembangunan ini tentu akan dirasakan oleh sektor-sektor industri transportasi, logisitik, pariwisata, hingga pendidikan.

Wilayah yang diuntungkan tidak sedikit, dimulai dari wilayah penyangga industri hingga wilayah yang terintegrasi dengan Bandara Kertajati, diantaranya Subang, Majalengka dan Sumedang. Pembangunan ini bisa membantu penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi rakyat Jawa Barat.

 

foto: pribadi

Tags : #subang #patimban

ARTIKEL TERKAIT





KOMENTAR

Rating

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.