Sosok Nadiem Makarim, Dari Bos Gojek Jadi Menteri Pendidikan

24 October 2019 | Dki Jakarta



Penulis: Humbul Kristiawan

Direktur Eksekutif Innovative Government Institute & Pemerhati Masalah Sosial, Ekonomi, dan Inovasi

 

Indonesiaberinovasi.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi mengumumkan jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju masa jabatan 2019-2024 di Istana Negara, Rabu (23/10/2019). Dari 32 nama yang disebutkan, nama Nadiem Makarim menjadi salah satu kejutan. Bagaimana tidak, pendiri perusahan moda transportasi online Gojek tersebut dipilih sebagai Mendiri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Latar belakang Pendidikan dan pengalaman kerja

Nadiem Makarin yang lahir di Singapura, 4 April 1984 menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah pertama di Indonesia, lalu melanjutkan Pendidikan menengah atas di Singapura. Setelah lulus SMA, Nadiem yang merupakan menteri termuda pada kabinet Indonesia Maju ini melanjutkan Pendidikan ke salah satu universitas Ivy League di Amerika Serikat. Jenjang strata satu dya tempuh di Brown University jurusan Hubungan Internasional. Sempat juga mengikuti pertukaran pelajar di London School of Economics and Political Science di Inggris. Setelah menyabet gelar BA (Bachelor of Arts), ia melanjutkan S2 di Harvard University hingga meraih gelar Master of Business Administration.

Berbekal dengan ijazahnya, Nadiem kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan konsultan bertaraf internasional, McKinsey & Company di Jakarta. Menghabiskan waktu selama 3 tahun, Nadiem pindah ke Zalora Indonesia sebagai Co-Founder dan Managing Editor selama setahun. Kemudian melanjutkan karir ke perusahaan KartuKu dan menjabat sebagai Chief Innovation Officer di perusahaan layanan pembayaran nontunai itu pada 2013-2014.

Mendirikan Gojek

Selama menjadi karyawan di beberapa perusahaan, Nadiem mulai mendirikan startup sendiri yakni Gojek yang kini menjadi perushaan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa.

Gojek sendiri lahir berdasarkan kejelian insting bisnis dan pengalaman Nadiem sering menggunakan ojek untuk ke kantor. Ia mencoba menggabungkan teknologi dan ojek menjadi inovasi baru. Hingga kini, Gojek menjadi moda transportasi umum yang cepat banyak menarik perhatian masyarakat karena kemudahan akses yang ditawarkan.

Meskipun di awal kehadirannya memicu kontrovesi, terutama dari pekerja ojek konvensional. Namun, hingga saat ini Gojek berkembang pesat dan menjadi decacorn pertama di Indonesia sebagai starup dengan valuasi lebih dari 10 miliar dollar AS. Bahkan, Gojek tidak hanya beredar di Indonesia. Moda transportasi online tersebut sudah melakukan ekspansi ke sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand.

Penghargaan Pribadi

Pada 2016, Nadiem menerima penghargaan The Straits Times Asian of the Year, dan merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan tersebut sejak pertama kali didirikan pada tahun 2012.

Penghargaan tersebut datang karena perusahaan berfokus pada peningkatan kesejahteraan sektor informal. Pada saat yang sama, ini dapat membantu menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia dengan mengubah pasar dan model bisnis tradisional.

Dikutip dari berbagai sumber, Nadiem juga masuk dalam daftar Bloomberg 50 versi 2018. Bloomberg menilai tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat dan mendalam seperti Gojek.

Inovasi untuk Dunia Pendidikan dan Kebudayaan

Mendikbud Nadiem Makarim pun mengungkapkan akan melanjutkan inovasi yang selama ini dia lakukan di Gojek. Dunia Pendidikan Indonesia akan lebih akrab dengan teknologi. Meskipun Pendidikan Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia. Namun, belum banyak perubahan dalam 20-30 tahun terkahir.

"Sudah banyak hal baik yang dilakukan pendahulu saya, Pak Muhadjir Arifin dan Mohamad Nasir. Mereka telah melakukan berbagai terobosan dan akan saya lanjutkan," ungkapnya.

Nadiem menambahkan bahwa di Indonesia ada 300 ribu sekolah dan 50 juta pelajar. Oleh karena itu dia akan menerapkan apa yang dilakukan di Gojek yaitu meningkatkan peran teknologi untuk memodernisasi Pendidikan.

"Mau nggak mau dengan 300 ribu sekolah dan 50 juta murid, peran teknologi akan sangat besar dalam kualitas, efisiensi dan administrasi sistem pendidikan. Jadi peran teknologi sangat penting," kata dia.

Nadiem mengatakan dunia pendidikan tidak bisa lagi dijalankan dengan begitu-begitu saja. "Kita harus mendobrak, kita harus berinovasi," pungkasnya.

Sementara itu, menurut Executive Director Innovative Government Institute (IGI), Humbul Kristiawan mengatakan bahwa dunia Pendidikan di Indonesia harus tetap ditingkatkan dari segi kualitas dan inovasi. 

“Sesuai dengan intruksi Presiden Jokowi, jangan terjebak dengan rutinitas yang monoton dan jadikan inovasi menjadi sebuah budaya. Harus ada terobosan baru yang bisa meningkatkan dunia Pendidikan di Indonesia. Banyak negara maju dengan sistem Pendidikan yang sangat baik, sistem tersebut bisa menjadi contoh untuk dunia Pendidikan kita,” jelas Humbul.

Humbul menambahkan hal terpenting dalam dunia Pendidikan adalah bagaimana caranya agar semua pelajar mendapatkan akses yang mudah dan cepat dalam dunia Pendidikan.

“Mungkin akses Pendidikan yang lebih merata ke daerah-daerah terpencil bisa menjadi perhatian khusus. Masih ada beberapa daerah terpencil di Indonesia belum mendapatkan fasilitas yang cukup. Dengan adanya inovasi, saya berharap kualitas Pendidikan yang baik bisa menjangkau hingga daerah terpencil, sehingga semua pelajar dapat mendapatkan kesempatan yang sama di dunia Pendidikan,” ungkap Humbul.

Nah, melihat dari sepak terjang Nadiem Makarim, sangat menarik untuk menunggu inovasi apa yang akan dilakukan untuk memajukan dunia Pendidikan di Indonesia.

Selamat bertugas sebagai Mendikbud-Ristek!

 

Tags : belum ada tag

ARTIKEL TERKAIT





KOMENTAR

Rating

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.