Wawancara Khusus dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K): Tujuan Saya Rebranding BKKBN

23 July 2019 | Dki Jakarta



Indonesiaberinovasi.com, JAKARTA – Tanggal 1 Juli 2019, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dilantik sebagai kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).  Untuk mengemban amanah tersebut, Hasto harus meninggalkan jabatan sebelumnya sebagai Bupati Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk periode kedua.

Tantanganya sebagai kepala BKKBN tentu berbeda dengan sebelumnya sebagai Bupati, ada dua pekerjaan rumah utama di BKKBN yang harus diselesaikan, diantaranya mensukseskan program KB dan mengurangi Angka kematian ibu & anak.

Pekerjaan rumah ini harus diselesaikan dengan pagu anggaran BKKBN tahun 2019 yang ditetapkan sebesar Rp3,70 triliun, dan Rp1,5 triliun atau kurang dari setengahnya adalah untuk operasional Lembaga. Dalam mensukseskan program KB, Hasto yang sebelumnya berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan ini akan melakukan rebranding secara utuh bukan hanya untuk program KB tapi BKKBN secara utuh.

Pada Senin (22/7) indonesiaberinovasi.com berkesempatan untuk melakukan wawancara khusus untuk menggali lebih lanjut rencana dan inovasi yang akan dilakukan untuk BKKBN kedepan dengan Hasto Wardoyo, berikut petikan wawancaranya:

Apa peran strategis BKKBN bagi kesejahteraan keluarga di Indonesia dan visi misi Presiden Jokowi?

Pada dasarnya BKKBN harus bisa menyiapkan penduduk dalam bentuk struktural. Maksudnya adalah pembangunan yang digunakan adalah manusia tapi yang menikmati juga manusia sendiri. Salah satu masalah kependudukan ini adalah bonus demografi, dimana ini akan menjadi keberkahan atau menjadi musibah.

Penduduk usai produktif dua kali lipat lebih banyak dari penduduk yang non produktif. Untuk itu penduduk usia produktif harus berkualitas, kalau tidak, hanya akan menjadi beban pembangunan bukan pendukung pembangunan. Disini peran BKKBN dalam menjaga pertumbuhan penduduk untuk menciptakan penduduk yang berkualitas dan bonus demografi bisa menjadi berkah di Indoensia.

Dalam menjaga bonus demografi dari beban demografi harus ada roadmap dalam kependudukan. Seperti yang telah disampaikan pak Jokowi harus menurunkan tingkat kematian ibu, tidak ada stunting, untuk itu perlu ada sosialisasi baru, yang sebelumnya dua anak cukup menjadi dua anak sehat. Dalam menyampaikan pesan harus bisa dimengerti oleh pihak masyarakat untuk mendapatkan isi pesan dari dua anak cukup.

Sebelumnya sebagai Bupati Kulonprogo sekarang menjabat sebagai Kepala BKKBN, bagaimana proses adaptasi dari sebelumnya memimpin daerah kemudian memimpin Lembaga negara?

Dari sisi anggaran sifatnya top down, sedangkan memimpin di daerah banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), bekerja sama dengan pihak-pihak lain, mengendalikan inflasi dan banyak hal lain. Sedangkan disini tugas lebih fokus, ada beberapa hal yang harus dipelajari, diantaranya tentang disparitas keluarga dan visi lebih besar.

Sekarang dapat arahan dari Presiden Jokowi bahwa harus money follow program bukan money follow function. Sekarang ini saya harus banyak mendengarkan dari pakar dan ahli untuk saya kemas dalam bentuk program yang dapat diaplikasikan oleh BKKBN.

Sekarang ini saya seperti 100 hari kerja, harus melalukan berbagai hal diantaranya saya harus menerjemahkan visi dalam bentuk yang visible untuk diaplikasikan di BKKBN, Rebranding yang akan dilakukan sampai bulan Desember, untuk mengubah branding mengenai BKKBN. Harus ada eksekusi yang dilakukan dalam 100 hari ini.

Dalam program-program BKKBN, apa saja inovasi dan program yang harus dilanjutkan dan rencanakan kedepannya?

Kerangka kerja di BKKBN sudah ada, hal yang penting jelas untuk dilanjutkan adalah menjaga pertumbuhan penduduk seimbang. Selain itu target dari Bappenas tingkat fertilitas 2,1 anak per ibu. Inovasi yang akan dilakukan adalah rebranding, khususnya untuk targetnya adalah milenial.

Menjaga pertumbuhan penduduk seperti penggunaan alat kontrasepsi yang diberikan secara merata, sehingga tujuan akhirnya adalah meratakan kualitas dan kuantitas penduduk.

Inovasi yang dilakukan bukan hanya bersifat teknokratis, tapi yang perlu dirubah mindset-nya, untuk itu yang dikerjakan adalah campaign yang dapat merubah mindset, yang mampu “menjebol” tatanan berpikir yang umum. Jika ingin lakukan perubahan, maka yang dilakukan tidak cukup hanya inovasi tapi harus ada revolusi.

Salah satu cara campaign agar bisa merevolusi mindset masyarakat adalah dengan mencari kata yang lebih tepat untuk diterima masyarakat, contoh jika menggunakan kata sexual education maka yang ditangkap masyarakat adalah mengajarkan tentang sexual intercourse, untuk itu harus menggunakan bahasa yang lebih bisa diterima masyarakat adalah edukasi kesehatan reproduksi. Penggunaan istilah kesehatan reproduksi lebih mampu menyentuh ke anak-anak milenial untuk lebih terbuka sexual education.

Tadi menyebutkan milenial dalam program dan inovasi, apa strategi BKKBN untuk menyentuh milenial dan pesan untuk milenial?

Dalam memasuki Pendidikan seks kepada millenials harus bisa mengikuti zaman, untuk itu yang generasi baby boomers harus bisa mengubah mindset dalam pendekatannya, harus lebih kedepan dengan menggunakan kaca mata milenial.

Kita akan memulai dengan rebranding, tujuannya memberikan persepektif yang berbeda mengenai BKKBN. Untuk itu kami berharap diakhir tahun ini akan ada branding baru BKKBN yang lebih diterima millennials.

Tapi untuk anak millenial perlu tetap memiliki ideologi, harus cinta negara dan berpancasila, karena banyaknya kegiatan bersifat online kegiatan yang bersifat offline menjadi kurang, untuk itu perlu menambah kegiatan yang bersifat offline agar anak millenial lebih terarah dalam kegiatannya.

 

Tags : belum ada tag

ARTIKEL TERKAIT





KOMENTAR

Rating

TERPOPULER

Kabar terpopuler seputar inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah dari berbagai macam sektor.